Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musik. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Juli 2013

Episode Lagu-Lagu Jenaka

Pada dekade 80, hingar bingar musik Indonesia selain dipenuhi dengan lagu-lagu cengeng nan mendayu-dayu juga diwarnai dengan lagu-lagu berlirik jenaka. Tidak hanya liriknya, lagu-lagu tersebut juga ringan, gampang dicerna dan kadang agak norak.

Membicarakan lagu-lagu jenaka tahun 1980-an tak lengkap rasanya tanpa menyinggung Bill n Brod. Kelompok ini dianggotai oleh Arie Wibowo (vokal,gitar), Nyong Anggoman (keyboards), Kenny Damayanti (vokal), Wawan Konikos (vokal) dan Rully Bachrie (drums). Hits pertama group ini adalah Madu dan Racun yang pada tahun 1985 terjual lebih dari 1 juta keping. Suatu jumlah yang luar biasa pada tahun tersebut.

Bill n Brod menghasilkan beberapa album antara lain “Madu dan Racun” (1985), ”Singkong dan Keju” (1986), ”Kodokpun Ikut Menyanyi (1987)“  Bibir dan Hati”(1988) dan “Hampa” (1989). Memasuki tahun 90-an, mungkin karena selera musik yang mulai berubah, maka grup ini mulai vakum.

Tak hanya Bill n Brod, lagu-lagu jenaka juga diramaikan oleh PMR. PMR yang merupakan singkatan dari Penghantar Minum Racun adalah kelompok musik komedi yang beraliran dangdut. Mereka terdiri dari Jhonny Iskandar (vokalis), Boedi Padukone (gitar), Yuri Mahippal (mandolin), Imma Maranaan (bass), Ajie Cetti Bahadur Syah (perkusi), Harri "Muke Kapur" (mini drum). Selain dikenal karena suka memparodikan lagu-lagu populer saat itu, hitsnya yang fenomenal Judul-Judulan sempat dicekal oleh pemerintah karena lagunya dinilai berbau porno.

Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks (atau OM PSP) adalah grup musik dangdut humor asal Indonesia yang popular pada paruh awal dekade 80an. Grup musik ini serin tampil bersama-sama dengan Warkop sering memelesetkan lagu-lagu dangdut popular tahun 1960-an dan 1970-an. OM PSP merupakan pelopor dangdut humor.

Tak hanya group atau penyanyi pria saja, para penyanyi wanita juga tak ketinggalan menyemarakkan lagu-lagu jenaka tersebut. Simak pula judul-judul lagu norak dan jenaka yang pernah populer tahun 1980-an seperti Berdiri Bulu Romaku (Hetty Koes Endang), Amit-Amit Jabang Bayi (Ade Putra), Cintaku Sampai ke Ethiopia (Ria Resty Fauzi), Mariam Soto (Jamal Mirdad).

Sabtu, 22 Juni 2013

Rhoma Irama, Si Raja Dangdut

Dia tidak hanya terkenal di dalam negeri, tapi bahkan musisi luar negeri. Pernah promotor ingin menduetkan Rhoma Irama dengan Rolling Stone. Namun niat itu tidak terlaksana, mengingat posisi Rhoma yang saat itu berseberangan dengan pemerintah. Rhoma Irama mempunyai kemampuan dalam menghipnotis massa.

Rhoma Irama juga pernah pernah tampil di Kuala Lumpur, Singapura, dan Brunei dengan jumlah penonton yang hampir sama ketika ia tampil di Indonesia. Meski banyak yang menyebut musik Rhoma adalah musik dangdut, namun lebih suka bila musiknya disebut sebagai irama Melayu.

Tahun 70-an, Rhoma mencanangkan semboyan "Voice of Moslem" bertujuan menjadi agen pembaru musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik Melayu serta melakukan improvisasi atas aransemen, syair, lirik, kostum, dan penampilan di atas panggung. Lagu Rhoma mewakili semua suasana ada nuansa agama, cinta remaja, cinta kepada orang tua, kepada bangsa, kritik sosial, dan lain-lain.

Rhoma  tampil di dunia film, hampir semua film Rhoma selalu laku. Bahkan sebelum sebuah film selesai diproses, orang sudah membelinya. Satria Bergitar, film yang dibuat dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp 400 juta. Hasil film tersebut antara lain disumbangkan untuk masjid, yatim piatu, kegiatan remaja, dan perbaikan kampung.

Rhoma juga terlibat dalam dunia politik. Masa awal Orde Baru, ia menjadi magnet bagi PPP, sehingga menjadi musuh bagi pemerintah Soeharto dan karya-karyanya sempat dicekal, tidak boleh tampil di TVRI. Dan ketika di awal 90-an dia memutuskan untuk hijrah ke Partai Golkar, banyak penggemar yang menyayangkan hal itu.

Terlahir dengan nama Raden Irama pada 11 Desember 1946, terlepas dari segala kontroversinya, terutama keterlibatannya dengan sejumlah wanita, tapi dia adalah tokoh besar Indonesia.

Kamis, 23 April 2009

Gito Rollies, Burung Kecil Terbanglah Tinggi


Tentu saja di KTP-nya tidak tertulis Gito Rollies, sebab nama aslinya Bangun Soegito Toekiman, lahir di Biak, Papua, 1 November 1947. Nama Rollies yang kemudian lebih melekat daripada nama aslinya, diambil dari grup bandnya asal Bandung yang pernah terkenal pada masa 1960-an sampai dengan 1980-an yang dibentuk bersama-sama Uce F. Tekol, Jimmy Manoppo, Benny Likumahuwa dan Teungku Zulian Iskandar.

The Rollies sendiri dibentuk tahun 1967 dengan beberapa vokalis. Dengan semua personil juga tampil sebagai vokalis dengan karakter yang berbeda-beda. Tampil dengan idealisme tinggi, tapi konon mereka kurang komersial di industri rekaman, sehingga sederet album yang mereka hasilkan tidak mampu mencapai sukses seperti diharapkan. Pamor mereka di industri rekaman kalah dengan supergroup saat itu seperti Koes Plus, Panbers, atau di dekade 80, seperti God Bless.

Namun justru ketika tampil sebagai penyanyi solo, Gito Rollis lebih bersinar. Karier solonya dimulai ketika dia menyanyikan lagu “Tuan Musik” karya Oetje F Tekol yang termaktub dalam album solo perdananya di tahun 1984. Disusul hits-hits lainnya seperti Astuti, Kau yang Kusayang, Burung Kecil, hingga duetnya dengan Ahmad Albar lewat Kartika.

Dan sepertinya anak-anak band masih dekat dengan tiga hal, sex, drug dan alcohol. Gito termasuk salah seorang yang tidak kuasa melawan godaan itu, bersama rekan-rekan The Rollies yang lain. Bahkan Iwan, pemain drum mereka tewas karena benda haram tersebut. Ada juga Deddy Stanza, pemain bas, yang bolak-balik diberitakan ditangkap polisi lantas dikurung di bui.

Tapi untunglah Gito segera insaf. Dia lalu meninggalkan jalan kelamnya di masa lampau. Di tahun 2000-an dia bahkan mulai dekat dengan agama. Tahun 2005 Gito bahkan berduet dengan Opick dalam album “Istighfar”. Juga menyumbangkan suaranya bersama sederet artis dalam album bertema kemanusiaan seperti “ Tembang Peduli” (1998) hingga album “Kita Untuk Mereka” (2005) untuk membantu korban Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam. Tahun 2007 dia merilis album religius berjudul “Kembali Pada Nya”.

Gito juga masih sempat berkiprah di layar lebar. Bersama bintang muda Nicholas Saputra dan Dian Sastro dia turut terlibat dalam film Ada Apa dengan Cinta (2000) yang disutradarai Rudy Sujarwo. Atau berperan sebagai Pak Ucok, yang bekerja sebagai pemutar film di bioskop sinepleks dalam film Janji Joni yang dibesut Joko Anwa,untuk kembali bertemu Nicholas Saputra. Di film ini juga, Gito Rollies berhasil meraih Piala Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005.

Tapi memang Tuhan lebih berkuasa atas nasib manusia. Setelah sejak tahun 2005, Gito terserang kanker kelenjar getah bening dia akhirnya wafat pada tanggal 28 Februari 2008 setelah menjalani pengobatan. Kini tak ada lagi suara nyanyiannya yang parau.
Hujan deras menghantarkan kepergiannya. Dia telah terbang tinggi menemui Sang Pencipta, seperti dalam lagunya Burung Kecil: ..hai burung kecil silakan pergi/terbanglah tinggi sesuka hati/langit yang biru memang milikmulmungkin disana damai hidupmu

Senin, 13 April 2009

God Bless, Bernyanyi Hingga Tak Muda Lagi


Sebuah surat tiba di penghujung tahun 1989. Isinya pendek tapi mengagetkan, “... dengan berat hati, saya mengundurkan diri dari God Bless... Ada nama Ian Antono bertanda tangan di bawahnya. Tentu saja surat pendek itu menggegerkan personel God Bless yang lainnya. Sebab saat itu semua personil sedang mempersiapkan keluarnya album ke empat bertajuk Raksasa. Eet Syahranie-lah yang kemudian menggantikan posisi Ian Antono pada gitar.

Bermula dari Ahmad Albar, atau sebut saja Iyek, kelahiran Surabaya 16 Juli 1946. Bersama Ludwig Le Mans, Iyek lalu mengajak Fuad Hassan (dram), Donny Fattah (bass) dan Jockie Surjoprajogo (kibor) untuk membentuk band. Ketika itu tahun 1972. Nama God Bless diambil dari kartu pos kiriman teman Iyek di Belanda saat latihan di puncak. Di surat itu tertulis God Bless You. Maka God Bless-pun meniti dari bawah dengan membawakan lagu-lagu dari band-band asing seperti Deep Purple, Grand Funk Railroad, ELP, King Ping Me, James Gang dan Genesis.

Album perdananya bertajuk God Bless, di sini jelas sekali pada lagu andalan Huma di Atas Bukit banyak terpengaruh sound Genesis. Di sini God Bless sudah mulai gonta-ganti personel. Formasi ketika mengeluarkan album ini adalah, Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Jockie Suryoprayogo dan Teddy Sujaya. Di tahun ini pula, God Bless mulai diakui eksistensinya dengan menjadi band pembuka ketika Deep Purple manggung Jakarta.

Tahun 1980 God Bless baru meluncurkan album kedua yang berjudul bertajuk Cermin. Ketika itu Jockie Surjoprajogo keluar dan digantikan oleh Abadi Soesman yang sudah bergabung sejak tahun 1979. Di album ini, konsep musik God Bless sedikit berubah menghadirkan ramuan aransemen lagu-lagunya terkesan lebih rumit dan membutuhkan skill tinggi dalam memainkannya. Sayang dari segi komersial album in kurang laku, meski meraih sukses di Singapura dan Malaysia.

Lalu album ke tiga dirilis tahun 1988 dengan judul Semut Hitam. Diproduseri oleh Log Zhelebour album ini meledak di pasaran dengan penjualan 600 ribu kaset dengan hitsnya seperti Rumah Kita, Semut Hitam, atau Kehidupan. Sebuah jumlah yang luar biasa untuk ukuran tahun 80-an. Di album ini, terjadi lagi perubahan konsep musik God Bless. Dari yang tadinya lebih bernuansa rock progresif secara drastis berubah menjadi sedikit lebih keras dengan adanya pengaruh musik hard rock dan heavy metal. Album ini menjadi album terlaris God Bless sepanjang sejarah. Tak hanya itu, album ini juga berhasil mengangkat kembali nama God Bless ke puncak popularitas, sekaligus menjadi perangsang kelompok musik rock yang lahir pasca God Bless saat itu.

Setelah lama vakum pada 1997, God Bless termasuk kembalinya Ian Antono, bersepakat meluncurkan album baru yang berjudul 'Apa Kabar'. Beberapa saat kemudian Eet Sjachranie menyatakan mundur, setelah dia membentuk band Edane.

God Bless kini tak muda lagi, namun mereka tetap ingin bernyanyi. Hingga kini, mereka cuma punya lima album. Yaitu; God Bless (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1988), Raksasa (1989), dan Apa Khabar (1997), dan sebuah album yang diaransemen ulang, The Story of God Bless (1990). Achmad Albar kini sudah 63 tahun. Ian Antono, sang gitaris, sudah 58 tahun. Begitu pula Donny Fattah (bas), Yaya (drum), dan Abadi Soesman (keyboard). Namun mereka masih tetap berkarya, dan bernyanyi. Sebab negeri ini masih membutuhkan nyanyian.

Sabtu, 14 Maret 2009

Vina Panduwinata, Burung Camar yang Centil


Dia dikenal dengan gaya centilnya. Kecentilan itu tidak saja pada gaya fisik, wicara, tapi juga pada vokalnya yang serak-serak manja, plus selingan desah mesra. Gayanya yang khas membuat Vina sempat menjadi ikon pop era 1980-an. Penyanyi-penyanyi pendatang baru di dekade 80 pun sempat meniru-niru gaya Vina tersebut. Dan terinspirasi oleh kecentilan Vina itulah kemudian musisi Dodo Zakaria melahirkan lagu Di Dadaku Ada Kamu. Menurut Dodo, Vina memang pas membawakan lagu lincah dan centil. Ternyata memang benar, lewat album ke tiga Vina yang berjudul Cerita Ceria (1984) tersebutlah semakin menegaskan warna vokal Vina yang genit, dengan lirik-lirik jenaka dan bermelodi riang.

Terlahir dengan nama Vina Dewi Sastaviyana Panduwinata, lahir di Bogor 6 Agustus 1959. Dibesarkan dalam keluarga pecinta musik, bakat menyanyi Vina agaknya menurun dari sang ibu yang berdarah Ambon - Manado, Albertine Supit. Ayahnya R Panduwinata, yang diplomat membawa Vina kecil untuk berpindah-pindah negara mengikuti mengikuti tugas ayahnya. Banyak yang tidak tahu, sewaktu tinggal di Jerman pada usia SMA Vina pernah membuat rekaman single di perusahaan rekaman RCA Hamburg, Jerman, yaitu Java dan Single Bar (1978) serta Sorry Sorry dan Touch Me (1979).

Vina yang selagi muda mengidolakan Dionne Warwick, Samantha Sang, Barbara Streisand, dan Karen Carpenter pertama kali mengeluarkan album berjudul Citra Biru di tahun 1981. Pada album perdana tersebut Vina berkerja sama dengan musisi musisi Mogi Darusman. Di album tersebut terdapat hits Citra Biru yang merupakan karya James F Sundah, musisi yang banyak menghasilkan hits seperti Lilin-Lilin Kecil yang dibawakan oleh Crisye, serta Sakuku Rata yang mengorbitkan Ruth Sahanaya.

Kemudian album ke dua Vina dirilis tahun 1982 berjudul Citra Pesona. Di album itu Vina banyak mendapat sentuhan dari musisi papan atas semacam Dodo Zakaria, James F Sundah, plus penata musik Addie M.S. Album yang mulai melambungkan nama Vina itu berisi lagu antara lain "September Ceria", "Dunia yang Kudamba", "Resah", dan "Kasmaran".

Lagu Burung Camar yang dirilis tahun 1985, merupakan lagu yang begitu identik dengan Vina, sampai-sampai dia mendapat julukan sebagai Si Burung Camar. Tentang sebutan itu adalah Koes Hendratmo yang memulainya sewaktu final Festival Lagu Populer Nasional (1985). Selain itu Vina juga masih mempunyai sederet hits, sebut saja: Surat Cinta, Cium Pipiku, Kumpul Bocah, Ratu Sejagat, Aku Melangkah Lagi, September Ceria.

Selain menghasilkan solo album Vina juga pernah tergabung dalam grup Rumpies bersama Trie Utami, Malyda dan Atiek CB, menghasilkan hits Nurlela. Di luar album, Vina berjaya di ajang festival. Tiga kali berturut-turut ia mendapat gelar penyanyi berpenampilan terbaik pada Festival Lagu Populer Nasional. Tahun 1983 ia menang lewat lagu Salamku Untuknya ciptaan Adji Soetama dan Irianti Erningpradja. Kemudian Aku Melangkah Lagi (Santoso Gondowidjojo, 1984), serta Burung Camar (Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdulrachman, 1985).

Hingga di era 1990-an, Vina masih tetap populer lewat lagu seperti Rasa Sayang Itu Ada pada 1991. Di tahun 1992 Vina mengeluarkan single Mutiara yang Hilang lagu yang pernah dipopulerkan Ernie Djohan pada akhir 1960-an. Vina juga pernah berduet dengan Broery Pesulima lewat lagu Bahasa Cinta, dan tahun 1995 ia mempopulerkan lagu Aku Makin Cinta ciptaan Loka M Prawiro.

Atas dedikasi dan prestasinya sepanjang hidupnya yang diperuntukan bagi music, Anugerah Musik Indonesia (AMI) memberi penghargaan Lifetime Achievement 2006.

Kamis, 12 Maret 2009

Franky & Jane, Balada Dua Bersaudara


Tapi dia memilih pergi dengan kereta malam. Sebab ada rindu pada orang tuanya yang sudah tidak tertahankan. Lalu dengarkan dia bersenandung lirih: Duduk di hadapanku seorang ibu/dengan wajah sendu, sendu kelabu/penuh rasa haru ia menatapku/seakan ingin memeluk diriku/dia lalu bercerita tentang/anak gadisnya yang t'lah tiada/karna sakit dan tak terobati/yang wajahnya mirip denganku…

Tapi itu hanya syair lagu Perjalanan yang dibawakan duet Franklin Hubert Sahilatua & Jean Maureen Sahilatua yang popuper di tahun 1970-1980-an silam. Franky & Jane kakak beradik bermarga Sahilatua pertama dikenal publik lewat album mereka yang berjudul Musim Bunga. Sebenarnya album yang diproduksi tahun 1978 tersebut adalah album ke dua dari nyong Ambon kelahiran Surabaya tersebut, namun baru di album Musim Bunga tersebutlah mereka mulai populer.

Duo tersebut segera menyita perhatian publik karena pilihan warna musiknya yang berbeda dari warna kebanyakan. Warna country dan lagu-lagu balada yang diusung duo tersebut, dengan musik yang sederhana. Acuh tapi manis Dengan suara gitar yang sangat menonjol, sedikit sentuhan aksentuasi dram, sedang suara biola memberi suasana dan latar belakang. Franky sendiri dengan terus terang mengakui banyak dipengaruhi John Denver, sedang Jane baik warna suara maupun kecenderungannya dalam menginterpretasikan lagu condong pada Melani yang cenderung meliuk-liuk dan merintih.

Dari segi lirik, lagu-lagu Franky & Jane hanya sedikit yang berbicara tentang cinta. Tapi Franky & Jane berhasil membuktikan bahwa meski tidak menjual cinta, namun mereka tetap bisa eksis. Simak saja judul-judul seperti Jaka Tarub, Bis Kota, Kepada Angin dan Burung-Burung tidak semuanya berisi lagu cinta platonis. Seperti halnya puisi-puisi Taufiq Ismail yang banyak dibawakan oleh Bimbo, demikian juga Franky & Jane banyak membawakan puisi dari Yudhistira Ardi Nugraha. Lihat saja dari 12 lagu di album Musim Bunga, 6 di antaranya adalah puisi karya Yudhistira Ardi Nugraha: Dari Sepi Ke Sepi Kembali, Perjalanan, Nyanyian, Benua Baru, Pelabuban, Pekerja.

Franky juga secara santun berani mengungkapkan ketidakadilan dalam masyarakat, satu hal yang sangat dianggap tabu di masa itu. Paling tidak, dia menunjukkan ke khayalak bahwa country tak hanya bisa akrab dengan cowboy-cowboy di Amerika. Bahkan album country daerahnya memperoleh penghargaan di ajang kompetisi bergengsi AMI (Anugerah Musik Indonesia). Keberhasilan album-album Franky & Jane, mulai dari Musim Bunga, Kepada Angin, hingga Burung-Burung, Dan Ketuk Semua Pintu, Panen Telah Datang, Di Ladang Bunga, Siti Julaeka, membuktikan bahwa pilihan music country-nya bukanlah pilihan asal tampil beda, tapi merupakan kesatuan semangat nyanyian hati seperti menyatunya petani dengan sawah ladang serta kicau burung di antara derai tawa anak-anak desa dan menyatunya pohon-pohon dengan suara kecipak air sungai, suasana alam pedesaan yang menawan. Simak saja syair Kepada Angin dan Burung-Burung:“…kepada angin dan burung-burung/matahari bernyanyi/tentang daun dan embun jatuh/sebelum langit terbuka…” atau pada lagu Semusim Sekali: “…senda gurau gadis tani/kicau burung yang bernyanyi/pada musim petik buah/di gunung jadi riang dan berseri…”

Franky memulai karier bermusiknya pada 1973 di Bengkel Musik "Lemon Trees" yang bermarkas di Surabaya. Di sana dia bertemu dengan musisi-musisi kawakan pada masanya, sebut saja Gombloh, Leo Kristi dan Arthur Kaunang. Meski Franky tidak bertahan lama di bengkel musik tersebut, namun harus diakui pergaulan Franky dengan mereka mampu memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi kelangsungan karirnya. Dan tahun 1977 dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta.

Selain dikenal karena duonya dengan Jane, Franky juga mencoba bersolo karier. Awal debutnya menghasilkan album Balada Wagiman Tua yang dirilis pada tahun 1982, berturut-turut beberapa album dihasilkan, salah satunya Lelaki & Telaga berhasil mendapat simpati dari masyarakat. Selain itu, Franky juga sempat menciptakan lagu Kemesraan yang dibawakan oleh Iwan Fals, lagu yang sempat menjadi lagu wajib anak-anak muda di tahun 1980-an. Selain itu keberhasilan lagu 'Terminal', 'Orang Pinggiran', dan 'Menangis', tak lepas dari pertemanannya dengan Iwan Fals atau Emha Ainun Nadjib yang menyumbangkan lagu 'Perahu Retak'-nya kepada Franky Sahilatua.

Jumat, 13 Februari 2009

Nicky Astria, Meniti Nada-Nada Tinggi


Sebagai anak bungsu dari 5 bersaudara, apalagi dia adalah satu-satunya anak perempuan, maka mojang Bandung kelahiran 18 Oktober 1967 ini sangat dimanjakan oleh orang tuanya. Dia bisa meminta apa saja tetapi tidak untuk menjadi penyanyi. Sebab ayahnya menginginkan anak-anaknya untuk menyelesaikan pendidikan setinggi mungkin.

Namun semuanya berubah ketika suatu saat Deny Sabri seorang pemandu bakat menemukannya. Dia kemudian memilih jalur rock, dengan pertimbangan saat itu penyanyi rock wanita masih sedikit. Hanya Euis Darliah, Renny Jayusman, dan Sylvia Sarche saja yang tercatat. Juga, dia berpikir bahwa wajahnya tidak terlalu cantik untuk menjadi penyanyi pop.

Maka di pertengahan 1984, ketika usianya baru 17 tahun, dia bersiap menandatangani album rekaman. Ia pun mengubah namanya: Nicky Nastiti Karya Dewi menjadi Nicky Astria, yang artinya dewi keberuntungan. Album pertama itu berjudul Semua dari Cinta, dan musiknya digarap Jelly Tobing. Di sinilah untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan orang-orang musik macam Ian Antono, Titiek Hamzah, dan Dodo Zakaria.

Album pertama Nicky Astria tidak begitu sukses maka ia pun kembali masuk dapur rekaman, dan lahirlah album Jarum Neraka pada tahun 1985. Di luar dugaan, album ini meledak, sesuatu yang sangat langka pada pasar lagu-lagu jenis pop rock. Album ini akhirnya berhasil meraih angka penjualan tertinggi dan melambungkan nama Nicky ke jajaran penyanyi pop rock kelas atas.

Nicky memang muncul di saat yang tepat. Yaitu saat penyanyi senior Euis Darliah meninggalkan tanah air dan menetap di luar negeri, sementara pamor Renny Jayusman dan Sylvia Sarche sudah mulai memudar. Karena itu, pasar musik rock yang tengah lapar itu pun melahap album Nicky. Kebetulan lagu-lagu yang disuguhkan pun memenuhi selera penikmat musik di tanah air.

Lagu Jarum Neraka dan Tangan Setan ciptaan Ian Antono dan Areng Widodo berhasil merajai pasar kaset tahun 1985 –1986. Selain berhasil meraup banyak keuntungan, Nicky pun berhasil meraih berbagai penghargaan. Sejak tahun 1985 hingga 1987, setiap tahun Nicky menyabet BASF Award sebagai Penyanyi Rock Wanita Terbaik. Dari album itu, ia juga berhasil meraih AMI Award. Dari dua albumnya yang dibuat pada tahun 1995 dan 1998, Nicky juga berhasil meraih predikat Penampilan Video Terbaik dan Penyanyi Terpopuler versi majalah musik Populer. Gelar Penyanyi Rock Wanita Terbaik juga diberikan oleh pembaca majalah Gadis selama lima kali berturut-turut yaitu tahun 1986-1991.

Nicky Astria bukanlah sosok yang fanatik dengan satu arranger saja, di luar itu sejumlah arranger papan atas telah menjadi bagian penting bagi perjalanan musiknya. Sebut saja misalnya Yongki Suwarno yang menggarap album Gelombang Kehidupan, Gairah Jiwa ataupun Sawung Jabo walaupun hanya menggarap 1 album yaitu Matahari & Rembulan, tetapi telah membentuk musik untuk Nicky Astria menjadi lebih terasa ke-Indonesiaan-nya, melalui aransemen musik yang dinamis dan kaya dengan bebunyian perkusi.

Kesuksesan yang terbangun di periode pertengahan tahun 1980an mencapai puncaknya di tahun 1995 melalui album Negeri Khayalan yang mencuatkan lagu Mengapa. Sesudah itu, perlahan-lahan album yang dihasilkan kurang mendapat response positif dari sisi komersial walaupun secara rutin masih saja menyapa penggemarnya melalui album Jangan Ada Angkara, Suka Kau, Samar Bayangan ditutup album Kemana tahun 2003. Setelah itu praktis tak ada lagi album yang dihasilkan sang rocker wanita itu. Namun demikian, sejarah mencatat bahwa Nicky Astria adalah rocker wanita tersukses di negeri ini jika dilihat dari jumlah album yang dihasilkan serta sisi komersial dalam jumlah album kaset/cd yang terjual.

Sabtu, 17 Januari 2009

KLa Project, Puisi Cinta yang Ditembangkan


Ketika sebuah puisi cinta dinyanyikan, maka yang ada adalah keindahan. Juga keabadian, sebab cinta bagaikan sebuah pertanyaan yang tidak berkesudahan. Dan KLa Project yang melakukannya.

23 Oktober 1988 adalah saat kali pertama KLa Project terbentuk, di Jakarta. Nama KLa Project diambil dari inisial nama para personelnya. Dengan formasi awal Katon Bagaskara pada lead vocal, Lilo pada gitar, kemudian Adi Adrian pada keyboard dan Ari Burhani sebagai drummer. Mereka juga sering kali mengajak Fransisca Insani dan Memes sebagai additional vocal.

Yang terjadi kemudian adalah Ari Burhani memutuskan untuk hengkang dan memilih duduk di belakang layar sebagai manajer di tahun 1992. Cukup lama KLa Project bertahan dengan formasi tiga personel sebelum kemudian pada Maret 2001 Lilo yang memutuskan keluar. Sempat beberapa kali bongkar pasang personel dengan keluar dan masuknya musisi-musisi seperti Erwin Prasetya (eks Dewa 19), Yoel Priyatna dan Hari Goro. Tahun 2008 KLa Project bersatu lagi dengan kembalinya Lilo dan meluncurkan album mini bertajuk "KLa Returns."

Pertama kali dikenal publik musik Indonesia di 1988, dengan hits single Tentang Kita yang terangkum di album kompilasi 10 Bintang Nusantara. Setahun kemudian muncullah album pertama mereka yang diberi judul KLa Project. Album KLa 'Kedua' Project dirilis tahun 1990, dan tentu saja lagu Yogyakarta akan dikenang para penggemarnya sebagai masterpiece mereka.

Album ke-3 diluncurkan tahun 1992 diberi judul Pasir Putih. Dengan hits-hits yang bertebaran di album ini seperti Pasir Putih, Tak Bisa ke Lain Hati, Belahan Jiwa. Lalu Album Ungu menyusul dengan lagu-lagu unggulan seperti: Terpuruk Ku di Sini, Lepaskan, Satu Kayuh Berdua, EMU, Amorita. Pada album ini mereka menyisipkan beberapa lagu berlirik bahasa asing, sebagai ancang-ancang untuk go internasional lewat bantuan suami Anggun yang juga produser: Erik Benzi. Namun sayang rencana tersebut selanjutnya tidak ada tindak lanjut.

Dengan bahasa-bahasa yang liris puitis, KLa Project tak hanya membawakan lagu-lagu cinta semata. Kepedulian akan lingkungan dan sosial juga ditawarkan seperti pada lagu Pasir Putih, Di Sekitar Kita, Saujana, Sarapan Pagi. Atau tentang perasaan seorang anak terhadap orang tua dalam lagu Bunda, tentang persahabatan dalam Salamku Sahabat, tentang nasionalisme dalam Hingga Memutih Tulang atau tentang hal-hal yang mungkin dianggap orang lain tidak perlu seperti hits Radio, Air Line Crew, Lagu Baru.

Berbagai award yang telah direngkuh seperti membuktikan bahwa eksistensi KLa Project di ranah musik Indonesia bukanlah sekedar sepintas lalu. Tahun 1991 KLa Project mendapat 3 BASF Award untuk lagu Yogyakarta lewat kategori Lagu Terbaik , Aransemen Terbaik, Pop Techno Terbaik Penghargaan BASF Award 1992 juga diraih untuk kategori Pop Kontemporer Terbaik lewat album Kedua. Sementara tahun 1994 lewat lagu dari album Ungu: Terpurukku Disini BASF Award kembali diraih untuk kategori Lagu Terbaik, Aransemen Terbaik serta Lagu Pop Kontemporer Terbaik Penghargaan juga diraih dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Pusat Bagian Musik sebagai Group Rekaman Terinovatif Tahun 1996. Selain itu KLa Project juga pernah meraih penghargaan khusus dari Sultan Hamengkubuwono IX untuk lagu Yogyakarta.

Sejak kemunculan album yang pertama KLa Project memang telah menawarkan sesuatu yang beda. Konsep musik yang ditawarkan merupakan sebuah warna baru yang langsung diterima para penikmat musik, di tengah pasar yang sedang jenuh oleh lagu-lagu ballad rock cengeng zamannya Deddy Dorres. Sebagai warna musik baru maka tak heran jika pengamat musik acap menjuluki aliran KLa Project sebagai techno pop, atau kontemporer. Seperti mendengarkan perpaduan antara Genessis dengan musik Sting. Pada tahun 1998 lewat album Sintesa KLa Project mencoba bereksperimen dengan memanfaatkan efek-efek electric dan syntetizer. Hanya sebentar, pada akhirnya mereka kembali ke genre mainstream warna mereka.

Kekuatan KLa Project juga terletak pada lirik-liriknya. Lewat syair-syair romantis yang kadang diwarnai pilihan kata-kata tidak lazim seperti: terpuruk, saujana, ngelangut, kidung. Atau pada frasa-frasa yang terbentuk seperti: lara melanda, jiwa merapuh.

Pernah KLa Project mengadakan empat konser tunggal. Yaitu Konser Ungu di 21 Concert Hall Jakarta tahun 1992. Kemudian tahun 1996 mereka mengadakan KLakustik di Gedung Kesenian Jakarta di mana untuk pertama kalinya dalam sejarah musik di Indonesia hasil rekaman konser tersebut dijadikan album KLakustik jilid 1 dan 2. Selanjutnya adalah konser Empat Musim di Jakarta Convention Centre Jakarta (2000) dan Five Senses di Jakarta Convention Centre Jakarta (2006).

Akan halnya puisi cinta, lagu-lagu KLa Project tetap abadi bersemayam di hati para penggemarnya.

Sabtu, 01 November 2008

LCLR Prambors, Melahirkan Musisi-Musisi Handal

Adalah Lomba Cipta Lagu Remaja disingkat LCLR suatu ajang pencarian bakat yang digelar oleh stasiun Radio Prambors pada tahun 1980-an. Untuk selanjutnya, LCLR digelar beberapa kali oleh Prambors dan mengangkat nama-nama seperti James F Sundah, Harry Sabar, Fariz RM, Raidy Noor, Adjie Soetama, Ikang Fawzy, dan lain-lain, serta mempopulerkan lagu-lagu seperti Lilin-Lilin Kecil yang jadi lagu favorit dari masa ke masa.

Gaung ajang LCLR ini memang menggetarkan industri musik pop negeri ini. Secara kebetulan, pada era 1977-1978 sederet pemusik kita memang tengah bersemangat menghasilkan karya-karya yang merupakan alternatif dari musik pop yang tengah bertahta. Mereka adalah Chrisye, Keenan Nasution, Eros Djarot, God Bless, Noor Bersaudara, Harry Roesli, Giant Step, dan masih banyak lagi.

Coba saja simak tata musik yang disajikan Yockie Soerjoprajogo dalam LCLR 1977 dan 1978 yang cenderung mengadopsi aransir musik rock progresif yang didominasi instrumen keyboard, seperti yang terdengar pada grup-grup mancanegara Genesis, Yes, maupun Emerson Lake & Palmer. Aransemen yang kerap disebut berciri simfonik ini cenderung menghasilkan atmosfer musik yang lebih megah dan tebal.

Lalu simaklah aransemen LCLR 1979 yang digarap Debby Nasution dan Addie MS dengan penonjolan pada warna klasik dan rhythm and blues. Debby yang terpengaruh atmosfer klasik Johann Sebastian Bach banyak menghadirkan suara hammond organ sedang Addie MS terlihat mengadopsi gaya soul R&B ala Earth Wind & Fire.

Pengaruh jazz mulai terlihat pada LCLR 1980 yang tata musiknya digarap Abadi Soesman dan Benny Likumahuwa. Pada saat bersamaan tren musik memang tengah diramaikan oleh musik bercorak jazz. Kesimpulannya, ajang LCLR ini memang selalu mengedepankan tren musik yang tengah merebak. Sungguh sayang, ajang LCLR ini sudah tak terdengar lagi kiprahnya.

Selasa, 28 Oktober 2008

Fariz RM

Fariz RM adalah fenomena. Di saat tren musik di negeri ini masih terbuai dalam balada yang mendayu-dayu, Fariz malah menawarkan konsep musik yang danceable ala Earth Wind & Fire dengan penonjolan pada aransemen brass section sebagai aksentuasi dan teknik bernyanyi falsetto.

Akhirnya tahun 1980, Fariz membuat album keduanya yang bertajuk Sakura. Di album ini, dengan sistem rekam overdubbed, Fariz memainkan berbagai instrumen, seperti drum, kibor, gitar, bas, perkusi, sendirian. Bisa jadi Fariz terinsiprasi Stevie Wonder atau Mike Oldfield, pemusik yang bermain tunggal dalam sejumlah album rekamannya. Warna musiknya pun fresh dan groovy. Album ini sukses besar. Fariz kemudian merilis album perdananya yang belum sempat dirilis.

Setahun kemudian, Fariz R.M. membentuk grup Transs, yang personelnya antara lain Erwin Gutawa, pemusik yang sekarang banyak dikaitkan dengan aransemen berbau orkestral. Dengan Transs, Fariz menawarkan konsep musik fusion, yang akhirnya membuat sejumlah grup musik terinspirasi untuk menggarap musik fusion, yang memadukan jazz dan rock. Transs adalah grup yang maunya beridealisme tinggi. Ini terlihat dari kalimat yang tertera pada sampul album Transs, Hotel San Vicente (1981): "pembaharuan musik Indonesia dalam warna, personalitas, dan gaya". Boleh jadi kalimat itu berkonotasi gagah-gagahan belaka. Namun patut diakui, sejak pemunculan Transs, mulailah muncul grup-grup fusion seperti Krakatau, Karimata, Emerald, dan lain-lain.

Pada tahun 1983, Fariz bergabung dengan Iwan Madjid dan Darwin B Rachman membentuk kelompok musik Wow. Mereka bertiga, Iwan (vocal, piano, keyboard), Darwin (bas), dan Fariz (drum) kemudian merilis album bertajuk Produk Hijau. Wow tetap menghadirkan nuansa rock progresif lewat lagu-lagu seperti "Pekik Merdeka", "Armageddon", hingga "Purie". Dhewayani.

Setelah debut album dirilis, Fariz RM mengundurkan diri dari formasi Wow. Saat itu, selain bergabung dengan Wow, Fariz juga aktif di kelompok Symphony hingga Jakarta Rhythm Section, serta beberapa proyek album solonya.Setelah itu, Fariz yang masih terhitung famili dengan penyanyi remaja masa kini Sherina Munaf, pun terus menelurkan karya-karyanya, baik di Indonesia maupun di Internasional.

Selama 25 tahun kariernya sejak tahun 1978 hingga 2003, Fariz telah menghasilkan 20 album solo, 72 album kolaborasi, 18 album soundtrack, 27 album produksi dimana dia berperan sebagai produser dan 13 album internasional yang dirilis di Eropa dan Asia Pasifik. Di antara lagu-lagu ciptaannya yang terkenal hingga sekarang adalah lagu "Barcelona", "Nada Kasih" (duet dengan Neno Warisman), "Susie Bhelel", "Menggapai Bintang" (Symphony), "Selamat Untukmu" (Jakarta Rhythm Section), dan "Renungan" (Dibayang Dewasa) yang menampilkan duet Fariz RM dengan Marissa Haque.

Minggu, 26 Oktober 2008

Ebiet G Ade dan Sebuah Nama Camelia


Ebiet G Ade adalah Camelia, dan Camelia adalah Ebiet G Ade. Dua nama itu selalu identik. Untuk nama itu bahkan Ebiet menjadikannya sebagai judul empat albumnya. Tetapi siapakah sesungguhnya Camelia?

Ebiet G Ade terlahir sebagai Abdullah Abdul Gafar di Banyumas, 21 April 1955. Lihat saja salah satu syairnya "mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa...". Sebagai penyanyi balada dia tidak hanya bercerita tentang cinta. Dia kadang bercerita tentang alam, tentang manusia, tentang Tuhan, tentang Ayahnya. Dia kadang menyuarakan kritik sosial dengan bahasa yang santun, tanpa harus ada yang merasa tersinggung.

Ia memulai debutnya tahun 1974, dengan menyanyikan puisi Emha Ainun Najib yang berjudul Kubakar Cintaku. "Saya tak mau disebut penyanyi," katanya. Ia lebih senang dianggap "penyair yang menyanyi." Ia juga pernah menyanyikan puisi penyair Amerika yang tersohor Emily Dickinson. Camelia Lewat Jackson Record, Ebiet telah mengorbitkan kasetnya yang pertama berjudul 'Camelia I'. Berisi 10 buah lagu -- dan semuanya agaknya bermula dari puisi. Karena itu pada kaset ini kita lebih banyak diajak mendengar cerita, daripada musik.

Lagu-lagunya kemudian mendapat tempat tersendiri di hati penggemarnya. Dia merajai pop Indonesia pada tahun 1979 - 1983. Dia juga mendapatkan penghargaan BASF Award tahun 1984 hingga 1988, dan penyanyi terbaik Anugerah Musik Indonesia tahun 1997.

Tetapi siapakah Camelia itu? Sayang dia tidak pernah ada. Sebab Camelia hanyalah sosok imajiner di mata Ebiet G Ade.

Sabtu, 25 Oktober 2008

Namaku Bento


Bila nama aslinya yang disebut Virgiawan Listanto (lahir di Jakarta, 3 September 1961) tak akan banyak orang yang kenal dengannya. Namun panggil saja dia dengan Iwan Fals.

Lewat lagu-lagunya, ia 'memotret' suasana sosial kehidupan Indonesia (terutama Jakarta) di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal karirnya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Belakangan Iwan Fals juga mengakui kalau pada saat itu dia sendiri juga tidak tertarik untuk memasukkan lagu-lagu ini ke dalam album.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang didukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Senin, 20 Oktober 2008

Hati yang Luka


Masih ingat dengan syair berikut:
Dulu, segenggam emas kau pinang aku
Dulu, bersumpah janji di depan saksi
Namun semua hilanglah sudah ditelan dusta
Namun semua tinggal cerita hati yang luka.

Syair lagu yang menggambarkan kekerasan dalam rumah tangga tersebut adalah penggalan dari lagu Hati Yang Luka yang dinyanyikan oleh Betharia Sonata. Seperti halnya banyak karya Obbie Messakh yang lain lagu tersebut juga menjadi hits dan turut mewarnai musik tanah air pada era 1980-an. Sebagai lagu yang sangat populer, Hati yang Luka tak berhenti di situ saja. Lahir pula lagu jawabannya. Judulnya Penyesalan, yang didendang si penciptanya sendiri, Obbie. Ia bersedih pisah dengan istrinya. Lalu dijawab kembali oleh Betharia, dalam Tiada Duka Lagi. Mereka setuju berdamai dan rujuk.
Pada masanya Obbie Messakh adalah salah seorang hits maker bersama beberapa musisi lain seperti Rinto Harahap, Pance maupun Pompi. Beberapa karya-karyanya seperti Antara Benci dan Rindu, Kisah Kasih di Sekolah, Telepon Rindu maupun Birunya Rinduku turut mempopulerkan artis-artis seperti Ratih Purwasih, Nani Sugianto untuk menyebut beberapa nama.
Di samping lagu-lagu dangdut, pentas music Indonesia pada tahun 1980-an banyak didominasi oleh lagu-lagu melankolis yang oleh banyak kalangan disebut lagu-lagu cengeng. Bahkan seorang pejabat pemerintah Orde Baru, Harmoko, merasa perlu untuk membuat larangan guna membatasi aliran jenis musik tersebut yang disebut-sebut sebagai 'ratapan patah semangat berselera rendah' sehingga tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan. Ia mengingatkan, semangat kerja tidak tumbuh jika mata acara TVRI banyak diwarnai ratapan, keputusasaan, dan keretakan rumah tangga. "Dalam keadaan patah semangat dan cengeng, sulit mengajak orang untuk bekerja keras," katanya.
Kehadiran musisi-musisi muda seperti Fariz RM, Deddy Dukun, Oddie Agam sedikit banyak turut memberikan warna karena mampu menawarkan sesuatu yang beda. Sehingga aliran music musisi-musisi macam Fariz RM tersebut disebut sebagai aliran pop alternative.