Sabtu, 10 Januari 2009

Pak De dan Misteri Pembunuhan Ditje


Kematian konon menjadi sesuatu yang teramat sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Sebab dia kerap kali menghinggapi seseorang tanpa pernah memberikan suatu peringatan sebelumnya. Begitu juga yang terjadi pada seorang peragawati kondang asal Bandung, yang tentu saja cantik, Ditje Budiarsih.

Senin 8 September 1986 pukul 22.00 WIB. Cerita berawal saat sebuah mobil sedan Honda Accord warna putih tiba-tiba berhenti di tepi Jalan Dupa, Kalibata, Jakarta Selatan. Ternyata di dalam mobil bernomor polisi B 1911 ZW itu terbujur sesosok perempuan. Ditje Budiarsih. Tapi tubuhnya telah membeku. Lima luka tembakan senjata api bersarang di tubuhnya. Di belakang telinga kanan, dada, pundak, ketiak kanan, dan di punggung kanan. Siapakah pelakunya?

Kemudian polisi datang membawa skenario. Dengan pongahnya mereka mengumumkan Muhammad Siradjudin alias Pak De sebagai pembunuhnya. Sebab pria warga Susukan, Ciracas, Jakarta Timur itu sebelumnya juga dituduh membunuh Endang Sukitri, seorang pemilik toko bangunan di Depok.

Menurut polisi, disebutkan bahwa Ditje menitipkan uang sebesar Rp 10 juta kepada Pak De yang juga berprofesi sebagai dukun. Sedianya, duit tersebut bakal disulap menjadi ratusan juta rupiah seperti dijanjikan pria pensiunan tentara dengan pangkat terakhir pembantu letnan satu itu. Namun karena uang tersebut sudah habis untuk memenuhi kebutuhan hidup, Pak De nekat menghabisi nyawa Ditje.

Seperti sebuah mimpi buruk akhirnya Pak De harus duduk di kursi pesakitan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pak De membantah sebagai pembunuh Ditje seperti yang tercantum dalam BAP yang dibuat polisi. Pengakuan itu, menurut Pak De dibuat karena tak tahan disiksa polisi termasuk anaknya yang menderita patah rahang. Ketika itu, Pak De mengajukan alibi bahwa Senin malam ketika pembunuhan terjadi, dia berada di rumah bersama sejumlah rekannya. Saksi-saksi yang meringankan untuk memperkuat alibi saat itu juga hadir di pengadilan. Namun, saksi dan alibi yang meringankan itu tak dihiraukan majelis hakim.

Akhirnya majelis hakim yang diketuai Reni Retnowati pada 11 Juli 1987 memvonis hukuman seumur hidup karena dianggap bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Karena merasa tidak bersalah, Pak De mengajukan banding sambil tetap menjalani hukuman di Cipinang. Namun upaya banding kandas setelah Pengadilan Tinggi DKI Jakarta justru menguatkan putusan PN Jakarta Selatan. Tak menyerah, ia kemudian mengajukan kasasi agar putusan dua hakim sebelumnya dibatalkan. Namun, lagi-lagi nasib baik belum berpihak. Majelis Hakim Kasasi Adi Andojo Sutjipto pada 23 Maret 1998 menolak permohonan itu.

Hingga kemudian keberuntungan berpihak kepadanya ketika Presiden B.J. Habibie memberikan grasi, berupa keringanan hukuman dari kurungan seumur hidup menjadi 20 tahun penjara pada 13 Agustus 1999. Akhirnya 27 Desember 2000 Pak De dapat meninggalkan hotel prodeo setelah pemerintah memberikan kebebasan bersyarat.

Setelah menghirup udara bebas, pecandu rokok sejak usia muda itu lebih sering mengurusi ayam-ayamnya. Tubuhnya telah lama layu. Kumis tebalnya juga sudah berwarna kelabu. Kepada setiap orang kembali Pak De menyatakan: “Pak De tidak membunuh Ditje". Pak De dalam kasus pembunuhan itu merasa menjadi kambing hitam oleh polisi dan Polda Metro Jaya. "Sebenarnya saat itu polisi tahu pembunuhnya," kata Pak De. Siapakah pelakunya? Pak De menyebut-nyebut sejumlah nama yang saat itu dekat dengan kekuasaan. Entahlah, sebab di negeri ini keadilan tidak berlaku bagi rakyat kecil (dari berbagai sumber).

23 komentar:

Anonim mengatakan...

Itulah nasib orang kecil, selalu menjadi korban kekuasaan....

Dessy mengatakan...

Blog yang bagus. Terus berkarya ya. Keep blogging dude

mulyono mengatakan...

Konon yang membunuh Ditje adalah orang suruhan T, karena Ditje berselingkuh dengan suaminya

reasonable mengatakan...

salam kenal, seperti kembali tahun 80-an saat masih kanak-kanak nih

joe mengatakan...

Sebagian peristiwa ini terjadi saya juga masih anak-anak kok. Cuma ingin bernostalgia saja.
Salam kenal juga

Anonim mengatakan...

sorry ya...meski komentarku ga nyambung, tapi kalo kemarin, aku yang tinggal diseputaran RTM cimanggis, sekarang malah pak lek ku yang tinggal di ciracas...he he he... seneng rek, blog'e ono sing ngomentari apik,, ;-) mbluzz,. kowe ga melu komentar nggo komeng.... ;-)

joe mengatakan...

Wah rek, moso aku dipadakne karo Komeng? he he ..
Thanks telah mampir!
MU BGT!!

Edo mengatakan...

wow...kalo diliat dari tanggal kejadian gw baru berumur bulanan tuch masih orok hehehe. Bokap gw tau kale ye ceritanye, ntar gw tanyain hehe.

Lam kenal, thanks kunjungannya.

joe mengatakan...

Salam kenal juga. Thanks telah mampir

kaka mengatakan...

wah... liat ada merk mobil jadi punya ide nih.. gimana klo mobil2 ngetrend era 80an diitampilkan? yang suka oto munkin seneng juga kali

joe mengatakan...

Iya, terima kasih atas sarannya.
Saya usahakan ya, tapi masih antri nih...
Salam

Anna Fardiana mengatakan...

bener tuh kata mas mulyono..
dulu sih kabar-kabarnya emang ada keterlibatan Keluarga No.1 di Indonesia (waktu itu)...

semoga, pelaku yang sebenernya tetap dapat ganjarannya...

*halah...serius banget... :)

salam kenal ya mas Joe..

joe mengatakan...

Pelakunya? No comment deh...
Salam kenal juga mbak

Anonim mengatakan...

Permainan yang sangat cantik dari seorang istri (inisial SH) yang cemburu pada suaminya (inisial IR) yang berselingkuh dengan Ditje. Kasihan.. Korban rezim orba.

joe mengatakan...

Wah, jangan sebut merk lho ya...

Anonim mengatakan...

... kabar yang beredar menyebutkan bahwa Pak De hanyalah kambing hitam yang sengaja dikorbankan. Di tengah persidangan kasus pembunuhan itu, kabar santer yang beredar adalah Ditje sengaja dihabisi untuk menutup aib keluarga Cendana. Salah seorang menantu keluarga Cendana, disebut-sebut telah menghamili Ditje.

Ditje ternyata tidak cuma 'akrab' dengan menantu keluarga Cendana. Sejumlah nama yang sempat menjalin hubungan intim dengannya antara lain seorang pengusaha nasional, saudara mantan Presiden Soeharto. Selain itu, ada nama lain, seorang marsekal Angkatan Udara.
Kepada majalah TEMPO, Pak De mengatakan Ditje sudah dianggap seperti anak sendiri. Kepada Pak De, Ditje bercerita mengenai hubungannya dengan ketiga pria itu. Bahkan Pak De juga diberi tahu oleh Ditje mengenai 'taripnya' sekali kencan. "Mencapai 10 sampai Rp 20 juta," kata Pak De seperti dikutip TEMPO.

Ketika pengakuan ini dikonfirmasi, pengusaha nasional tersebut membantah dan mengaku tidak mengenal Ditje.
Meski dengan tegas menyebut sejumlah nama tokoh yang dekat dengan Ditje, Pak De enggan menuding siapa pelaku pembunuhan atas diri peragawati itu. "Takut dosa!" tandasnya. (Majalah Tempo)

Anonim mengatakan...

xin l nic x, sex. txh b, rsb nnrnjp! twdh q wgc yt.

Anonim mengatakan...

SIAPA PEMBUNUH DITJE ?.

Anonim mengatakan...

yg aku denger sih...otaknya SH dan eksekutornya YS. dari obrolan preman di warkop.

Anonim mengatakan...

Otak pembunuhan ditje adalah keluarga CENDANA!!!Ini bisa terjadi karena ditje diketahui telah mejalin hubungan asmara gelap dengan menantu seharto yg bernama INDRA RUKMANA ( suaminya tutut ).Beredar rumor kalau ditje juga menjalin hubungan asmara dengan kerabat dekat seharto yg lain tpi informasi untuk hal yang satu ini belum bisa dibuktikan betul keabsahannya.

Anonim mengatakan...

Pelakunya bisa jadi suruhan dari SITI HARDIYANTI RUKMANA ( mbak tutut ) atau bisa jadi orangnya suruhannya bu tien seharto.

Anonim mengatakan...

Pelakunya adalah itu.

Jurnal Pemilu mengatakan...

dengar2 korban adalah simpanan pejabat