Jumat, 09 Januari 2009

Harmoko, Menurut Petunjuk Bapak Presiden


Konon setelah terpilih menjadi ketua MPR/DPR RI Harmoko langsung menghadap kepada Presiden Soeharto di suatu malam. Kepada Soeharto dia menyatakan kebingungannya karena sekarang dia harus memanggil Presiden Soeharto dengan sapaan ‘Saudara Presiden’. Sebagai seorang pembantu dekatnya tentu saja Harmoko tidak enak harus memanggil dengan sapaan tersebut. Maka Soeharto pun menjawab “Moko, kamu ndak usah bingung”, kata Soeharto dengan senyumnya. “Kamu boleh saja menyebut daripada aku dengan sapaan ’Saudara Presiden’, Itu sudah seharusnya, dan itu konstitusional. Tapi supaya perasaanmu enak, sebelum kamu mengucapkan ‘Saudara Presiden’ kamu lebih dulu mengucapkan ‘sesuai petunjuk Bapak Presiden’, kan begitu?"

Dan cerita tentang Harmoko banyak beredar di internet. Yaitu cerita tentang salah seorang menteri paling populer di era tahun 1980-an: Menteri Penerangan yang tak henti-hentinya muncul di layar TV justru pada saat para pemirsa sedang tidak mengharapkan kedatangannya. Dia berbicara tentang ini itu. Tentang hasil Sidang Kabinet Terbatas, tentang pembangunan yang sedang digalakkan, tentang harga cabai keriting. Dengan gayanya yang khas, berpakaian selalu rapi, rambut klimis yang tersisir ke belakang, dengan senyum yang misterius dan mengulang-ulang selalu kalimat yang menjadi trade mark-nya: sesuai petunjuk Bapak Presiden…

Nasi pecel, rempeyek, dan serundeng hanya salah satu dari kegemaran Harmoko yang lahir di Nganjuk, Jawa Timur 7 Februari 1939. Rajin membaca di perpustakaan desa, lepas SMA ia menempuh pendidikan jurnalistik. Lalu ke Jakarta, sebagai wartawan. Bersama beberapa kawannya, Harmoko menerbitkan harian Pos Kota, 1970, sebuah koran yang berisi lebih banyak berita-berita kriminal. Dari sana kemudian terpilih sebagai Ketua PWI, Jaya (1970-1972), dan terpilih sebagai ketua PWI Pusat, selama dua periode, hingga 1983. Dan kedekatannya dengan Soeharto membuat dia terpilih sebagai Menteri Penerangan di masa Kabinet Pembangunan VI.

Sebagai Menteri Penerangan, Harmoko mendirikan gerakan Kelompencapir (Kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa) yang dimaksudkan sebagai media untuk menyampaikan informasi dari pemerintah. Juga jargon mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga. Dia juga yang bersemangat melarang beredarnya lagu-lagu yang cengeng: karena tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Juga di tahun 1990-an Harmoko berperan atas dicabutnya ijin tiga media Tempo, Detik, dan Editor yang memberitakan pembelian kapal bekas asal Jerman itu.

Kedekatannya dengan Soeharto membuat dia dipercaya untuk memimpin Partai Golkar. Menjelang Pemilihan Umum 1997 Harmoko melaporkan kepada Pak Harto. "Bahwa ternyata rakyat memang hanya mempunyai satu calon Presiden RI untuk periode 1998-2003 yaitu HM Soeharto,” kata Harmoko. "Mayoritas rakyat Indonesia memang tetap menghendaki Bapak Haji Muhammad Soeharto untuk dicalonkan sebagai Presiden RI masa bakti 1998-2003," tutur Harmoko yang didampingi M Yogie SM dan Jenderal TNI Feisal Tanjung ketika itu.

Namun ketika di tahun 1998, angin perubahan yang membawa pesan reformasi bertiup, Harmoko yang menjadi Ketua MPR menyatakan bahwa pimpinan MPR setuju dengan desakan mahasiswa untuk meminta Pak Harto mundur. Kemudian Soeharto mundur, dan keluarga Cendana menganggapnya sebagai Judas.

10 komentar:

Anonim mengatakan...

Harmoko: hari-hari omong kosong

ka' erwe mengatakan...

wah,mas, kata culas kayanya menyaitkan deh..bukan berarti aku penggemar berat beliau lho kalo aku bilang begitu.tapi setidaknya program klompencapir tu aku suka tuh, maklum wong ndesa. setidaknya ga seperti sekarang,tipi cuma berisi gosip murahan.

joe mengatakan...

Ya terima kasih mas, gak apa-apa kok beda pendapat. Salam

Michael Landon mengatakan...

Harmoko : Harmoni Kota

joe mengatakan...

Kaya nama bis ya...

de asmara mengatakan...

nngg... buat ka'erwe :) di mata aku sih acara kelompencapir tuh cuma (lagi-lagi) acara setiran pemerintah, scr gak langsung mo bilang "nih liat pemerintahan kita suksesss...!!"

pdhl para petaninya, nelayannya, dll, udah di-set. pertanyaan yg mo dikasih udah diatur, yg ujung2nya.. ya biar mengesankan pemerintah sukses itu tadi.

tipikal jaman harmoko & suharto banget deh!

joe mengatakan...

memang beredar desas-desus bahwa para petani tersebut sebenarnya sudah dicasting sebelumnya, biar kelihatan pintar saja...

sunflo mengatakan...

tau ga sekarang kabarnya gimana?? bagaimanapun juga beliau adalah salah satu tokoh pelaku sejarah di negeri ini...

Jusuf Agung mengatakan...

Acara Kelompencapir itu memang benar-benar kompetisi. Para petani itu memang benar berlomba menjawab yang benar. Jadi, tidak disetel atau diprogram supaya kelihatan pintar. Kenyataannya, para petani Kelompencapir itu kemudian ada yang menjadi pengurus-pengurus partai di daerahnya atau berhasil memerintah desanya dengan baik sebagai Kepala Desa. Mengapa mereka tampak kaku seperti itu di TV? Itu karena kode etik acara formal adalah seperti itu. Sebelum acara, bahkan saat babak penyisihan, mereka dibriefing ketat bagaimana cara berbicara, nada bicara, dsb. Selain itu, mereka pun MENGHAFAL seluruh materi yang mungkin ditanyakan. Dan itu benar-benar menghafal sampai 200.000 fakta mulai dari tanggal peristiwa sejarah, nama ibukota negara, nama ibukota propinsi, fakta geografis, hingga nama menteri dan singkatan-singkatan resmi. Wajar saja kalau di TV nampak seperti membaca, karena saat itu otak mereka sudah seperti tape recorder. Kelompencapir sendiri adalah konsep yang sangat bagus karena mengawali apa yang baru sekarang ini digalakkan lagi oleh LSM: Ruang Baca Publik. Kelemahan Kelompencapir adalah karena dia dijadikan alat politik di mana peserta hanya diberikan satu versi bacaan saja, yang "netral", dan "tidak subversif".

Anonim mengatakan...

Hari Hari Omong Kosong