Rabu, 04 Februari 2009

Ria Jenaka dan Pesan-Pesan Pembangunan


Ijinkan saya bercerita tentang suatu keluarga yang aneh.

Seorang ayah dengan tiga orang anaknya, laki-laki semua. Sang Ayah itu bernama Semar alias Sang Hyang Ismaya. Seorang ayah yang sudah mulai didera oleh tua. Ketika semua rambutnya sudah mulai tidak bersahabat, memutih seperti butir-butir kapas. Perutnya membuncit, dan pantatnya menggelembung. Dan dia terlalu jelek untuk dibandingkan dengan Arjuna misalnya. Tapi konon dia bukan manusia sembarangan, meskipun bukan berasal dari kasta yang tinggi. Karena selain bijaksana Semar juga sakti mandraguna, sebab konon dia adalah dewa yang menitis menjadi manusia. Dewa? Maaf, saya bercerita tentang wayang.

Dan inilah anak-anaknya: Gareng. Dia anak yang tertua meskipun dia tidak bisa dijadikan panutan oleh adik-adiknya. Dia juga tidak rupawan. Matanya juling, hidung bulat seperti tomat, perut gendut, kaki pincang, tangannya juga tidak sempurna. Orang Jawa mengatakan ceko, dengan pronounce seperti kita mengucapkan negara Cheko. Dia selalu membawa sabit, seperti untuk menunjukkan bahwa dia merupakan representasi dari kalangan kawulo alit, rakyat kecil.

Adiknya bernama Petruk, yang paling tinggi di antara keluarga. Hidungnya terlalu panjang untuk ukuran biasa dan jalannya juga tidak tegak, sebab kakinya tidak simetris. Rambutnya dikucir ke atas seperti ekor tikus. Di pinggangnya sering terselip kapak.

Sedangkan Bagong adalah anak yang terkecil. Tubuhnya pendek, perutnya membesar dan mulutnya lebar tidak proporsional. Dengan wujudnya yang karikatural tersebut, peran Bagong diperankan dengan sangat pas oleh Ateng atau Kho Tjeng Lie seorang komedian di tahun 80-an.

Faktanya adalah semua anggota keluarga tersebut bisa dibilang abnormal secara fisik. Dalam dunia pewayangan mereka lebih sering berperan sebagai penghibur. Baik kepada para ksatria atau ndoro mereka Pandawa yang lelah bersengketa, atau kepada penonton yang mulai bosan melihat peperangan di antara kaum wayang, dan ingin segera melihat sinden yang bergoyang. Sebab sesuatu yang abnormal di negeri ini masih seringkali mengundang tertawa, ketika kekurangan secara fisik seperti tubuh yang cebol, atau kelebihan fisik seperti gigi yang maju seringkali dijadikan senjata untuk memancing kelucuan. Dan lawakan yang mengolok-olok fisik itu masih kerap mewarnai sejumlah dagelan hingga sekarang.

Mereka keluarga Punakawan tersebut dulu sering muncul saban hari Minggu siang di layar TVRI. Dalam acara Ria Jenaka mereka tidak hanya bertutur dan mengundang tawa. Mereka terbiasa memparodikan kondisi teraktual masyarakat saat itu, atau konflik-konflik yang terjadi di antara anak-anak mereka, tentu saja dengan kemasan komedi alias tidak serius. Dan ujung-ujungnya tentu saja sudah bisa diduga, Semar yang datang memberikan petuah-petuah tentang hidup dan kehidupan. Tentang hal-hal yang baik dan kebaikan.

Tentu saja sebagai televisi pemerintah, keluarga ini hanya salah satu agen dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat. Dan bila Unyil memberi nasehat kepada anak-anak, maka Ria Jenaka bertutur kepada keluarga. Suatu saat melalui Semar yang bijaksana dan pandai berpetuah, mereka akan berbicara tentang program KB untuk membentuk keluarga sejahtera, pentingnya penataran P4 atau transmigrasi. Tapi di penampilan yang lain mereka akan bertutur tentang perlunya membayar pajak, iuran televisi atau keberhasilan pembangunan pemerintahan Soeharto.

Lewat Ria Jenaka, Orde Baru memperalat peran para punakawan. Di sini peran Semar dan anak-anaknya direduksi menjadikan mereka partisan. Mereka diharuskan untuk menyuarakan kepentingan pemerintah, tanpa diberi kesempatan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. Sebab pada pemerintah Orde Baru, menyuarakan perbedaan pendapat adalah hal yang tabu.

23 komentar:

pingin ngeblog mengatakan...

Jadi inget..dulu seneng banget nonton Ria jenaka..
BTW Semar itu dari dulu koq tua melulu ya mas..??

joe mengatakan...

Mungkin karena anak-anaknya sudah pada gedhe ya. atau agar nampak wise...
Salam

Ardy Pratama mengatakan...

sya ingt pas dlu wktu kcil, soalx alm.kakek sya ska nnton. Sya gak ingt jlas, msih kcil bgt soale.. Hehehe

hakim mengatakan...

Benar, banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah punakawan tersebut. Khususnya pentingnya kebersamaan, legowo, ilmu pengetahuan dan banyak hal. Selain itu, keragamana dan keunikan bentuk fisik bukan merupakan kekurangan, namun kelebihan/potensi yang sangat besar. Jika bisa dimanfaatkan secara tepat akan menjadi senjata ampuh mengarungi segala rintangan.

Danta mengatakan...

Hmmm.. q cuma tau pelajaran wayang waktu sd & smp.. jadi nostalgia..

jaloee mengatakan...

wwkwk iye juga jadi inga acara ini.. waktu beloem ada tivi swasta seperti sekarang...

iikjlo mengatakan...

Wah kalo sekarang film-film yang kayak gini diputar lagi kayaknya mendidik banget deh (daripada sineton bejibun yang gak jelas alur ceritanya yang terkadang juga terlampau sadis) tentunya dengan humor yang mencerminkan kebebasan berpendapat tanpa takut dikritik atau diancam-ancam lagi.

salam kenal..

Lyla mengatakan...

wah... iya sekarang udah gak ada lagi ria jenaka... dulu wkt saya maish kecil kalo ada ria jenaka pasti duduk paling depan..

ario saja mengatakan...

iya nih acara sejam aku TK sampe SD acara paporit

joe mengatakan...

@ Lyla:
Iya soale kalau paling belakang pasti gak kelihatan ya

mercuryfalling mengatakan...

hehehe jaman dulu mau berani2x ngeritik pemerintah ? langsung 'ilang' deh :D

dulu aku sering nonton juga,tapi langsung ngacir begitu semar datang hehehe

hamka mengatakan...

hihi foto keluargamu ya???

joe mengatakan...

Wah, aku kan yang moto...

juliach mengatakan...

Ah...nasehatnya dari atas ke bawah. Kapan kita mendengarkan nasehat dari bawah ke atas?
Kapan kita mulai mendengarkan ocehan anak-anak kita yang masih kecil yang terkadang mereka juga ada benarnya.

joe mengatakan...

Nasehat dari bawah biasanya tidak akan mempan, suara orang kecil tidak akan didengarkan, padahal Vox populi Vox Dei: suara rakyata adalah suara Tuhan...
Salam...

Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 mengatakan...

Damai damai ajah mas,...di Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

joe mengatakan...

Ya damai juga...
Salam damai

haryantoblog mengatakan...

Wah jadi inget almarhum Pak Ateng, dulu tetanggaku

joe mengatakan...

Wah tetangganya selebriti dong...

grubik mengatakan...

punakawan is endonesa banget,
tentang orde baru, begitulah adanya masa itu

joe mengatakan...

Indonesia bang... jangan diganti-ganti ntar harus selametan dulu

Andy J. Santiko mengatakan...

kapan ada Neo Ria jenaka?

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

ateng itu pelawak fave saya wkt kecil banget.