Kamis, 05 Maret 2009

Pak Tino Sidin dan Gemar Menggambar


Menggambar adalah ibarat mengeja abjad-abjad, sedangkan melukis bagaikan mengarang novel. Demikian pernah dikatakan Pak Tino Sidin. Masih selalu dengan trade mark-nya, berbaret hitam dengan kuncir dan cangklong hitam buatan Denmark yang kadang selalu terselip di bibir. Tentang koleksi baret-baret itu konon dua dari 10 baretnya merupakan hadiah dari orang nomor satu di negeri ini waktu itu, siapa lagi kalau bukan Presiden Soeharto. Tak hanya Soeharto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef juga pernah memberi hadiah baret untuknya.

Tino Sidin merupakan putra Jawa kelahiran Sumatera yaitu Tebingtinggi, Sumatera Utara 25 November 1925. Dia tutup usia pada usia sekitar 70 tahun, pada 29 Desember 1995 di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta dan dimakamkan di Pemakaman Kwaron, Desa Ngestiharjo, Bantul, Yogyakarta. Seperti halnya Leonardo da Vinci, demikian juga Tino Sidin sejak kecil sudah menunjukkan kegemarannya melukis, meski ditentang oleh orang tuanya karena dianggap tidak akan mampu menghidupinya kelak.

MengenangTino Sidin, tentu saja kita ingat pada acara yang diasuhnya di TVRI yaitu Gemar Menggambar. Semula acara Gemar Menggambar hanya disiarkan di Stasiun TVRI Yogyakarta pada 1976-1978, sebelum kemudian dilanjutkan di TVRI Jakarta setiap Minggu sore untuk program serupa hingga beberapa tahun.

Tino Sidin yang lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta itu tak lupa selalu memuji setiap karya lukisan bocah-bocah yang dikirimkan kepadanya pada Gemar Menggambar di TVRI. Bagi Tino Sidin tak ada lukisan anak-anak yang buruk, karena setiap karya lukisan mempunyai karakter unik sendiri-sendiri. Karena prinsipnya adalah membuat bocah-bocah itu suka menggambar.

Kecintaan Tino Sidin pada dunia lukis dan anak-anak tersebut sungguh bertolak belakang dengan kehidupan masa lampaunya yang penuh dengan kekerasan. Latar belakang pada masa-masa revolusi kemerdekaan memang membuat Tino Sidin ikut berjuang dalam situasi kekerasan yang jauh berbeda dengan masa-masa kedekatannya dengan anak-anak melalui seni lukis.

Sebab dia pernah ikut andil dalam perang revolusi kemerdekaan dengan menjadi anggota Polisi Tentara Divisi Gajah Dua Tebingtinggi. Tahun 1945. Tidak hanya itu, pada masa-masa pergerakan revolusi setelah kemerdekaan, yaitu tahun 1946 hingga 1949 ia ikut terlibat lagi dengan bergabung menjadi anggota Tentara Pelajar Brigade 17 Yogyakarta, bersama-sama dengan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan RI.

Demikianlah dia sepenuhnya percaya bahwa seni akan membuat orang, terutama anak-anak akan menjadi halus dan dengan demikian akan jauh dari hal-hal yang berbau kekerasan.

35 komentar:

bagus pras mengatakan...

Betul bro.., memuji usaha dan hasil anak2 bisa jadi sebagai stimulus untk meraih hasil yang lebih bagus.

BTW..., saya jadi inget masa kecil dulu.., suka dengan acara Pak Tino Sidin saat masih di TVRI Jogja.

joe mengatakan...

Sama, bro, dulu saya menunggu acara tersebut di TVRI

yumaima mengatakan...

Aihhhh jadi keinget jaman dulu waktu tipi saya masih item putih...trus di umpetin di bawah kolong kalo ada razia pajak pertelepisian...kwakakakaak.....memory terindah tuh jaman susah...Pak tino pak tino...

anna fardiana mengatakan...

hehe..dulu saya suka juga nonton ini...

trus paling suka kata-kata pak tino:
"yah...ini gambar berikutnya...baguss...yang ini, bagus...ini juga bagus..."

semua bagussss!! hehehe

siWi mengatakan...

Sepertinya sampe sekarang belum ada yang bisa gantiin pak tino sidin ini ya?

joe mengatakan...

@ yumaima:
Duh, sampai segitunya ...

@ anna fardiana:
Ada gak yang inget, satu episode berapa kali beliau bilang 'bagus...'

@ siWi:
Yup... setuju

Mbah Koeng mengatakan...

Tuh gambar pak tino sidin po kw kesliliten hbs makan kepiting Mr ?!

joe mengatakan...

Bar kuwi deleg-deleg mergo regane larang ...

byme mengatakan...

wah jadi inget yang dulu dulu di tvri
byme

dania mengatakan...

Jadi inget masa kecil.
:D

endar mengatakan...

ini adalah gambar dari mas joe. yak bagus..

suwung mengatakan...

bagus.....
ini kiriman gambar dari soewoeng tk pertiwi mojolegi

IFOEL mengatakan...

Aku juga salah satu pengagum Pak Tino Sidin, cos aku juga suka melukis.... thx infonya ya..??

zee mengatakan...

Hmmm saya baru tahu ttg riwayat pak tino sidin dr blog ini nih.

Wah postingannya bagus. Secara kita kan dari kecil udah kenal pak tino sidin (aduhhhhhh........ jd teringat wkt masih tk :) missed that time so much), tp hanya kenal di tv saja...
skrg jd tau banyak deh..

joanne mengatakan...

WAAAH... KAANGEEEEEn.... kangeeennn...
Itu acara favoritku dulu!!!

topanz mengatakan...

thn 70an aku kok blm lahir ya :(

marsudiyanto mengatakan...

Sekarang anak2 nggak punya tokoh di TV yang seperti Pak Tino Sidin. TV sekarang acaranya hiburan hingar bingar melulu. Kebanyakan chanel malah bikin ruwet

sandy mengatakan...

hem bener-bener blog yang unik,temanya yang dibahas itu loh...

Ramdan mengatakan...

Jalan2 di Blog ini
Serasa Nostalgia MASA lALU
sALUT BUAT bLog INI

yoan mengatakan...

wah iya,
saya inget banget sama *topi pet-nya* pak tino sidin.

si bapak teh kalo gambar kayaknya gampang banget yak.

tapi saya tiru2 juga tetep aja gambaran saya gak berupa gambar...

nasib...

joe mengatakan...

Thanks buat semuanya, sorry lagi mudik ni ke Pacitan, sambil nyambut SBY ...

pakde mengatakan...

Berikutnya gambar dari...BAGUS....tinggal di SDN Bagus...Kecamatan Bagusssssss....Kota..Bagussssss...
Guwe dulu sempet ngirim tuh....sempet kompalin juga nama pakde koq dipanggil Bagus....

Dia bilang " Ini gambar dari...(Pak Tino Mikir dulu) Bagus"....katanya.

joe mengatakan...

Wah gak jadi terkenal dong, gara-gara namanya diganti ...

munawar am mengatakan...

saya sepertinya pernah mengalami dan sering nonton acara tersebut; sekarang sudah kebalik-balik, anak kecil bikin gambar dan video prono

joe mengatakan...

Sekarang sudah tidak ada lagi pengganti Pak Tino Sidin... sayang sekali ya..

Nitta Prasetya mengatakan...

aku ingat banget nih si pak tino sidin ini.... gambar bagaimanapun bentuknya selalu di bilang BAGUS...
heheheh dan acara menggambar bersama pak tino sidin ini menjadi acara favoritku lho....

joe mengatakan...

Iya, sebab bagi Pak Tino Sidin semua hasil karya anak-anak adalah bagus...

Krisna Teja mengatakan...

Wah jadi nostalgia ke masa kanak2 saya...

Bulatan kecil ditambah satu bulatan kecil lagi, ditambah satu bulatan besar... jadinya telur bebek...

BAGUS!!! hehehhe

joe mengatakan...

Ya, itu tadi gambar dari Krisna Teja dari kelas 0 besar TK Dharma Wanita... Baguss...

HASTu W mengatakan...

buk buk... liat tipi SINI dong, tuh2 namaku disebut2:
YaK ini gambar dari Hastu Wicaksono dari SD Panca Arga Magelang....
Baguuuuss....

Kata Ibu saya:
*halah* kamu kok bisa nggambar, paling2 digambarin ma gunadi to?!

Hahahaa....

joe mengatakan...

wah hebat dong, namanya bisa terkenal, BTW siapa tu gunadi?

BIG SUGENG mengatakan...

ya bagusss
bagusss

Just2live mengatakan...

Oh ini to Pak tino Sidin tuh.. Khas dengan topi baretnya.. makasih infonya... :)

andri mengatakan...

Setuju dengan cita2 Pak Tino Sidin untuk mencetak kepribadian halus bagi generasi muda Indonesia yang ramah.
Tapi menurut saya, ada kalanya kita juga memperkenalkan kekerasan (harus ada kontrol) untuk generasi muda. Kenapa..?? hal ini karena generasi muda kita tidak hanya akan berhadapan dengan orang yang berkepribadian halus, mereka juga akan berhadapan dengan orang2 yang berkepribadian kasar dan keras.
Terutama ketika mereka nantinya akan berhadapan dengan orang-orang luar (expatriat) di level medium.
Contoh aktual di hadapan kita:
Para TKI kita kerap mengalami perlakuan yang teramat sangat tidak menyenangkan dan kelewat menyakitkan di negeri orang. Kenapa..?? Itu karena secara pribadi mereka sangat halus seolah tidak berdaya melawan, karena tidak ada kekerasan dalam mindset mereka. Tentu saja hal ini harus dikontrol dengan akal sehat, kapan kita harus beramah tamah dengan orang lain, dan kapan kita harus keras bahkan cenderung kasar kepada orang lain.
Ketika kita berhadapan dengan saudara setanah air, sekeras dan sekasar apapun, saya setuju bila semua dihadapi dengan halus dan ramah.
Namun ketika kita bertemu dengan expatriat, kita harus waspada. kepribadian halus atau kepribadian keras yang harus diterapkan.
Keramah tamahan dan kehalusan kepribadian orang Indonesia acap kali digunakan untuk meringsekkan kita.
Sukses untuk semua...

Anonim mengatakan...

@andri: boleh membahas tentang kekerasan dan hubungannya dengan perilaku orangIindonesia, tapi ini adalah blog dan posting2 tentang Pak Tino Sidin, jangan mengubah tema jadi psikologi dan sosiologi, itu nge-junk namanya. -Sasha-