Rabu, 01 April 2009

Warkop DKI, 5 Become 1


Bermula dari iseng, 5 pemuda mencoba membuat acara untuk siaran di Radio Prambors. Bertajuk Obrolan Santai di Warung Kopi yang disiarkan setiap hari Jum’at malam pukul 20.30 - 21.15. Mereka adalah Dono atau Wahjoe Sardono, Kasino (Kasino Hadiwibowo), Indro (Indrodjojo Kusumonegoro), Nanu (Nanu Mulyono) dan Rudy Badil, yang terakhir kemudian menjadi wartawan senior Kompas. Tak disangka acara tersebut ternyata mendapat banyak sambutan sehingga kemunculannya selalu dinanti pendengarnya.

Berangkat dari popularitasnya di Radio Prambos mereka lalu sepakat untuk berpindah ke panggung. Maka mulailah mereka merintis karir dari panggung ke panggung, dari pesta perpisahan SMA hingga ke hotel. Di saat itulah kemudian nasib menggariskan lain, salah satu personel mereka Nanu harus menghadap Tuhan, setelah penyakit lever menderanya. Setelah itu disusul Rudy Badil juga memutuskan keluar.

Mereka kemudian juga sepakat untuk mengganti nama mereka sebagai Warkop DKI. DKI selain plesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota selain juga akronim dari nama para personel. Pergantian nama ini sekaligus membebaskan mereka dari kewajiban membayar royalti seperti ketika masih menggunakan embel-embel Prambors di belakang mereka.

Mencermati gaya lawakan Warkop DKI, tak ada hal yang terlalu serius untuk dipikirkan. Lawakan mereka masih banyak menampilkan hal-hal yang berbau slapstic. Mengolok-olok fisik orang lain, dalam hal ini Dono yang (maaf) bibirnya maju, sering kita temukan. Atau menertawakan kesialan teman yang jatuh lalu tertimpa tangga kadang masih juga memancing tawa. Faktanya adalah humor yang seperti ini banyak ditemukan hingga sekarang.

Dan satu lagi yang sering ditemukan dalam setiap penampilan Warkop adalah penampilan gadis-gadis cantik. Hampir dalam setiap film-filmnya Warkop tidak lupa menampilkan adegan di pantai yang tentu saja menampilkan wanita-wanita berbusana minim dan seksi. Dalam film-filmnya banyak artis-artis yang juga terlibat seperti Eva Arnaz, Meriam Bellina, Ira Wibowo, Lia Warokka, Aminah Cendrakasih, Nurul Arifin dan Sally Marcellina untuk menyebut beberapa nama.

Petualangan di layar perak dimulai tahun 1979 lewat filmnya Mana Tahaaan, yang disutradarai oleh Nawi Ismail. Dalam film ini Warkop yang masih diperkuat oleh Nanu bermain bersama Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi. Rentang waktu karya mereka di tahun 1979 hingga 1994 tersebut , Warkop DKI telah menghasilkan 34 judul film layar lebar. Film-film Warkop memang sukses menangguk penonton. Salah satu filmya: Kesempatan Dalam Kesempitan yang dirilis tahun 1985, bahkan menjadi film terfavorit tahun tersebut, dan hanya kalah dari film Pengkhianatan G 30 S/PKI. Lewat film itu juga trio Warkop DKI menjadi artis termahal dengan honor Rp. 15.000.000 per film. Suatu jumlah yang wah pada saat itu. Namun demikian kebanyakan film Warkop tidak dapat diedarkan secara internasional karena masalah pelanggaran hak cipta, yaitu digunakannya musik oleh komponis Henry Mancini tanpa izin atau mencantumkan namanya dalam credit film.

Memasuki era televisi swasta, Warkop tampil di televisi dalam format sinetron komedi 30 menit, yaitu lewat Warkop Millenium. Tentu saja masih membawa pakem lama, menghadirkan cewek-cewek cantik dan segar. Namun kemudian nasib menggariskan lain. Tahun 1997 Salah satu personel yaitu Kasino tutup usia. Kemudian menyusul Dono meninggal dunia tahun 2001. Maka tinggallah Indro sebagai satu-satunya personel Warkop yang masih tersisa, yang mencoba untuk tetap menebar tawa.

26 komentar:

Putra mengatakan...

Pertamaxx dah abis,...

suwung mengatakan...

kalo nanu pernah denger
tapi kalo yang jadi wartawan baru denger nih

joe mengatakan...

Tapi sekarang sudah pensiun kok ...

brinet mengatakan...

mas kenapa filmya dki kok agak "menjurus" terus ya?

ajeng mengatakan...

Iyah,kanapa filmnya selalu bertabur cewek dg pakaian seksi sih? Padahal enggakpun sudah menarik loh..

iskandaria mengatakan...

Grup ini pantes jadi legenda. Saya suka banget nonton film mereka, dari kecil sampe sekarang. Ga ada yg bisa gantiin mereka deh pokoknya.

joe mengatakan...

@ brinet & ajeng:
Barangkali salah satu strategi dari produser film untuk meningkatkan daya tarik penonton juga. Seperti pernah diungkapkan Raam Punjabi, dalam sebuah wawancara dengan Tempo, salah satu cara untuk meningkatkan rating adalah dengan memajang cewek-cewek seksi dalam film/sinetron mereka.

joe mengatakan...

@ iskandaria:
Setuju boss ...

BIG SUGENG mengatakan...

kapan mas bikin yang mirip mereka....

rayearth2601 mengatakan...

saya juga suka nongkrong di warkop,

warung kopi karmidi

hihi

kacrut mengatakan...

tapi [pas tampil di Tipi yang setengah jam itu lawakannya jadi garing,,

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

kyknya wkt masih kecil bgt, pernah diajak nonton film warkop deh. tapi lupa2 ingat tuh.

esha di birulangit mengatakan...

Kenapa warkop DKI telihat eksklusif waktu itu?karena warkop DKI sangat menjaga penampilan di depan umum.jarang tampil di televisi dan film2nya hanya muncul sekali dalam setahun...setelah televisi swasta muncul dan warkop tampil hampir tiap minggu...rasanya humornya nggak terlalu istimewa tuh....mbosenin malahan....

joe mengatakan...

Barangkali juga karena masanya sudah lewat, jadi selera pasar sudah berubah. Tapi bagaimanapun, mereka layak dikenang ...

Mufti AM mengatakan...

Film warkop memang asyik karena melibatkan wanita2 seksi dan aduhai. Sekarang pun film2 warkop masih enak ditonton. Tapi saya lebih suka film layar lebarnya daripada yang format komedi televisi .

joe mengatakan...

Sebenarnya sama saja sih, cuma mungkin pas format komedi televisi adalah jaman di mana sudah banyak alternatif tontonan lain di tv swasta jadi akhirnya pamor Warkop kalah...

Wafi mengatakan...

Nunun muliono kok hampir mirip sama dono ???

joe mengatakan...

Iya ya, padahal mereka gak saudara lho..

Nyante Aza Lae mengatakan...

warkop memang menarik,
ntah lucunya..ntah "bumbunya"!

joe mengatakan...

jangan-jangan karena bumbunya ni...

Guru Nakal mengatakan...

Wah..., baru tau kalo awalnya mereka berlima. Tapi mereka walaupun di dalam film kadang sial, tapi ceweknya bohai-bohai hehehe....

joe mengatakan...

Yup, bohai-bohai, kalau kata Thukul tombo ngantuk...

Wong Gagah mengatakan...

Yah emang pantes ko disebut sbg legenda. Tp kbanyakan org ingetnya sm filem2 ato sinetronnya, jd yg kbayang ya cw2 seksi, slapstick..Tp yg mungkin rada dilupain adlah penampilan non-film/tv-nya, entah di panggung, radio. Mereka tu malah pelopornya 'smart comedy'. Kenapa bisa dibilang bgitu? Dalam penampilan non-film/tv-nya, materi yg mereka bawain ga asal-asalan, ada semacam risetnya. Contoh di salah satu edisi radio, mereka membawakan materi (lupa judulnya, yg pasti berkaitan dg pendidikan hukum). Di situ mrka (Indro terutama, yg ceritanya ngasih pendidikan hukum ke org2 desa) ngobrolin tentang dasar teori2 hukum (yg ada di buku2 dasar-dasar hukum), ngobrolin pengadilan-hakim-jaksa. Ato pas mereka ngobrolin sejarah (di suatu episode 'pendidikan' juga), ilmu alam, dan sbgainya. Terasa skali sblm pentas mereka 'membaca'. Kadang2 jg mereka 'nyenggol' penguasa orba (jaman itu). Terkadang jg mereka ngetawain hal2 yg berkaitan dg perbedaan latar belakang budaya, tapi tidak sampai menjurus ke SARA. Gaya lawakan yg nyindir2 itu kmudian 'diturunkan' ke 'murid' mereka: Bagito. Tp ya itu, setelah populer lewat film, mereka populer dg komedi slapstick, cw2 seksi. Kebanyakan materi2 yg dibawain di radio, berbau pendidikan, entah tentang anak2 kedokteran yg lg KKN di desa, entah tentang anak2 hukum, dsb..
Pernah juga di taon 90an, mrka tampil di acara lawakan TVRI (acara lebaran klo ga salah), dg gaya 'asli'. Pada waktu itu ga cuma bertiga sih, ada Parto juga (sblum ngetop di Patrio).
Gw jg punya bbrapa koleksi MP3 lawakan mereka, baik yg direkam di Prambors ato di panggung. Gokil jg.

Ari mengatakan...

Saya ingat tentang warkop yang di era radio itu lebih bagus ketimbang pas di film. tapi untuk yang film saya lebih suka film-film di atas 90-an, cos ada ceritanya. tidak seperti yang tahun 1990-an yang aneh ceritanya. tapi warkop memang dari lima menjadi satu orang saja. hem, sekarang tinggal bang indro aja yah, yang masih hidup.

joe mengatakan...

Pilihan dari Warkop untuk meninggalkan materi lawakan yang berisi dan lebih memilih lawakan slaptic dan porno seperti di layar lebar bagaimanapun karena pertimbangan bisnis juga. Bagaimanapun sebuah film mempunyai biaya yang lumayan besar, apalagi waktu itu Warkop pernah menjadi artis dengan bayaran termahal. Barangkali produsernya juga berpikir untuk menambahkan cewek-cewek seksi pada setiap film-film Warkop untuk menambah daya tarik sehingga film mereka bisa laku di pasaran. Bagaimanapun produser tetap money oriented..

indon mengatakan...

sayang beberapa anggota warkop 'mati muda' ya? Film2 warkop memang merupakan fenomena, karena sebagian ebsar menjadi box office.

aku aja sampe skrg masih suka nonton film jadul warkop di tv dan terkadang masih suka senyum walau adegan sudah disaksikan berulang kali