Jumat, 21 November 2008

Rumah Masa Depan


Di Desa Cibeureum, Cianjur yang sejuk dan damai, di sebuah rumah sederhana tinggal sebuah keluarga terdiri dari Pak Sukri (Dedy Sutomo) dan Ibu Sukri (Aminah Cendrakasih), dengan dua orang anaknya Bayu (Septian Dwicahyo) dan Gerhana (Andi Ansi). Lalu ada juga Kakek (Hamid Arief) juga Nenek (Mak Wok, Wolly Sutinah). Ada juga Pak Kepala Desa yang menduda, dan selalu dijadikan sasaran gosip Bu Suwito (Mieke Wijaya) yang kaya dan sombong.

Semua itu hanya ada di serial sinetron Rumah Masa Depan, yang ditayangkan setiap Minggu siang di TVRI di tahun 1984-an. Rumah Masa Depan lahir setelah TVRI mengadakan dengar pendapat dengan para pengisi siaran tahun 1983. Ali Shahab yang hadir melemparkan gagasan: bagaimana kalau film seri digarap sepenuhnya oleh kelompok di luar instansi itu. Maka disepakati PT September Promotion (Sepro) yang memproduksi film itu, dengan TVRI hanya menyediakan dana.

Rumah Masa Depan memang penurut pengakuan sutradara Ali Shahab memang terinspirasi dari film serial asing A Little House on the Prairie yang juga diputar TVRI. Dan seperti halnya dengan semua tayangan di TVRI serial ini juga lengkap dengan pesan moral, maka disepakati Rumah Masa Depan harus memperlihatkan kerukunan antarwarga dari satu masyarakat pedesaan. Seperti halnya serial A Little House on the Prairie yang berpusat pada keluarga Michael Landon, demikian juga pada Rumah Masa Depan, tokoh sentral serial ini adalah keluarga Pak Sukri, dengan segala suka dan dukanya. Selain pemeran keluarga Pak Sukri ada banyak bintang tamu yang turut menyemarakkan serial ini seperti Sukarno M. Noor, Tino Karno, Mila Karmila bahkan sutradara Ali Shahab juga ikut main di beberapa episode.

Episode pertama berjudul Nenekku Manis Jangan Menangis. Ceritanya tentang Mak Wok yang kesepian di tengah ingar-bingar ibukota Jakarta, lalu jatuh sakit, lalu kembali ke desa, tinggal bersama anak dan cucu. Sebuah awal yang menjanjikan kampanye ‘lirik desa, tinggalkan kota’ Dakwah ini semakin jelas pada seri-seri selanjutnya: Cibeureum digambarkan sebagai desa yang teduh dengan para warga yang jujur. Kalaupun di suatu saat ada keributan biang keroknya selalu orang kota, atau orang yang baru pulang dari kota. Bu Suwito, tokoh nyinyir yang dalam beberapa episode, digambarkan sebagai tukang bikin runyam, adalah contoh. Ia sok modern, sombong, tetapi selalu pada akhirnya menyesal dan minta maaf.

Ada lagi salah satu episode Yang Lepra Yang Terhina yang menceritakan Pak Kosin seorang pengrajin tanah liat juga seorang penderita lepra. Dia dikucilkan oleh orang-orang kampung karena penyakitnya. Dalam episode Anak Ajaib, Ali Shahab begitu membela anak desa yang tak bersekolah tetapi bisa mengalahkan anak-anak kota dalam adu cerdas-cermat, hanya karena anak yatim ini berjualan majalah yang sekaligus menjadi sumber ilmunya. Dan pesan moralnya di sini jelas: pendidikan tak hanya diperoleh dari bangku sekolah.

Sayang serial yang legendaries itu tidak bertahan lama. Mengingat waktu itu TVRI mengharamkan adanya iklan komersial di televisi maka tidak ada pendapatan dari sponsor, konon PT September Promotion menanggung sejumlah kerugian materi selama produksi ini berlangsung.

25 komentar:

anggi mengatakan...

sori... belum liat mas???

tp kyaknya bagus deh...

murid mengatakan...

nostalgia masa lalu.........sayang zaman sekarang anak - anak lebih senang Power Rangers, Naruto, Ninja Hatori, Sponge Bob dan sejenisnya....Cerita moral di TV hanya artis kawin sering cerai........Btw, thanks mas sudah mampir ke blog kami

Mac Yos mengatakan...

membaca posting ini, membangkitkan nostalgia masa lalu. Sebuah tayangan yang patut ditonton. Entah.... apakah bisa diterima dan diapresiasi dg baik oleh anak-anak sekarang yang terbiasa dg kartun dari luar...

joe mengatakan...

Untuk Mac Yos, memang niatan saya membuat blog ini adalah untuk bernostalgia, mengenang masa lalu. Terima kasih telah mampir. Salam

jakartasiana mengatakan...

oiya inget saya, sinetron ini, coba diputar lagi sekarang ya.. itung2 inget masa kecil dulu..

joe mengatakan...

Kalau diputar sekarang sepertinya belum tentu laku seperti dahulu. Akibat pergeseran nilai dan budaya, masyarakat sekarang lebih menyukai sinetron-sinetron yang seperti sekarang ini.
Salam

Aris mengatakan...

Paparan yang bagus. Appreciate. Mengingatkan kita pada pentingnya menghadirkan mutu untuk tayangan publik. Hasilnya pun dapat dirasakan sebagai karya monumental dan dikenang, bahkan dirindukan oleh banyak pemirsa. Rasanya kita masih bisa berlaku bijak untuk menghadirkan yang terbaik untuk publik kita. Beberapa fil bermutu, seperti Lasykar Pelangi ternyata banyak peminatnya. Kenapa tidak. Para sineas dan pelaku media TV please deh hadirkan karya adiluhung untuk bangsa yang ingin menyongsong masa depan generasinya dengan ajaran dan ilmu yang terbaik.

Selamat berkarya

kelvin mengatakan...

Memang sinetron skarang terlalu mengada ada, terlalu dibikin bikin, dan pesan moralnya pun kurang. Memang sih banyak juga sinetron yang sarat pesan moral tapi lebih banyak sinetron yang kurang mendidik. Kayak, masa anak SMP udah pacaran atau anak kecil yang suka minta2 uang seperti pada sitkom yang ditayangkan di salah satu stasiun tv, walaupun itu untuk niat lucu lucuan, tapi menurut saya kurang mendidik anak. Semoga aja dunia drama/sinetron kita dapat lebih baik lagi untuk kedepannya.

ardo mengatakan...

Sinetron-sinetron masa lalu selalu memperkaya hidup dan saya rindukan hingga saat ini. Sebut saja serial “Losmen”, “Pondokan”, atau “Jendela Rumah Kita” masih melekat di benak saya hingga kini. Mereka memang benar-benar bermutu dan berbagi tentang nilai hidup kepada penontonnya.
Sedih sekali jika melihat sinetron yang beredar saat ini. Jauh sekali mutunya bila dibanding masa lalu hingga kita mengalami depresiasi mutu tontonan untuk keluarga kita.

fandhie mengatakan...

waduh kok bisa inget sampe mendetil gitu yahh???
*salut*
salah satu tontonan favorit masa kecil nih dulu hehehe

easy mengatakan...

itulah salah kaprahnya dijaman dulu.. iklan kok dilarang

fidel mengatakan...

kalau diputar di jaman sekarang mungkin gak laku ya...

GraMoC mengatakan...

Ada yang punya penggalan filmnya gak? kangen banget nih sama film ini....

joe mengatakan...

Wah kayaknya susah deh, btw sudah coba cari di Youtube? siapa tahu ada penggalannya...

one stop blogging mengatakan...

Sebuah tontonan yang layak dijadikan tuntunan, tidak seperti sinetron sekarang yang sama sekali menyesatkan ...

Rizal mengatakan...

Bagi2 donk yg punya filmnya ... share di youtube. TVRI pasti punya tuh film2nya, termasuk film ACI (Aku Cinta Indonesia) ... semoga TVRI terketuk hatinya utk mempublikasikan di youtube.

racha mengatakan...

Assalamu'alikum Wr. Wb.
dan Salam sejahtera semuanya..

wuaah...dibandingkan dengan siaran dan film yang ditayangkan distasiun TV saat ini sangat berbeda dan sangat tidak dpt dikatakan pantas dikonsumsi oleh para anak-anak kita saat ini.

sebuah kerinduan apakah TVRI masih mau menayangkan serial A.C.I (Aku Cinta Indonesia), Rumah Masa Depan. dan beberapa film cerita yang tetap mempertahankan dan menonjolkan serta mendidik sekalis mengajarkan kebudayaan bangsa indonesia yang sudah tak lagi nampak dalam keseharian anak-anak kita saat ini. yang ada hanyalah sebuah kebiasaan dan adat kebarat-baratan.......

Sekali lagi TVRI tayangkan lagi Film, kisah dan cerita itu kembali, karena kami yakin pasti masih buanyak yang menontonnya... nggak percaya tampilkan saja nomor yg dpt dihubungi..buktinya Film Oshin kemarin....pada membludakkan....


mohon maaf bila berlebihan.... terlalu hanyut dalam nostalgia......

Anonim mengatakan...

Salut, Mas Joe! Melihat acara-acara yang dikupas, saya lihat skala prioritasnya sudah tepat. Memang itulah acara2 yg paling top. Saya tunggu ulasan ttg Dunia Dalam Berita, favorit saya meski saat itu masih SD.

Raka mengatakan...

Aduh.... ini nih yang gw cari cari, lupa2 inget lagu temanya, bikin ngantuk dan relaks. Tapi gw cari di youtube gak ketemu euy.... Ada yang punya gak? Please upload dong... Thx ya.

Anonim mengatakan...

waahh.. dulu gw suka nonton nih. ceritanya jauh lbh berbobot daripada sinetron sekarang.

btw, gak ngulas ACI ya? dulu terkenal juga kan?

khani mengatakan...

mampir nich...
oh ea,, ada sedikit info tentang kayu jabon.mungkin pernah denger tentang kayu jabon ok.. SALAM.....

Anonim mengatakan...

aslmkm, itu lah bedanya sinetron jadul dan sekarang yg tidak bisa mengangkat nilai kehidupan di masyarakat kita yang layak untuk di tonton. Sinetron sekarang lebih condong ke nilai komersilnya saja,lain dgn sinetron jadul yg kaya akan nilai2 kehidupan baik yg mencerminkan kebudayaan bangsa dan bermasyarakat kita. Kangen akan hal itu. Ayo para sineas tunjukan karyamu

Anonim mengatakan...

ada yg punya link buat download sinetron kayak ini ga?? pengen nostalgia masa kecil..

dolphin Art mengatakan...

gan,.. nyimpen pideo nya ga..? kalo ada konfirm ya ke akusmawan@gmail.com

list :
- Rumah masa depan
- Keluarga Cemara
- Si komo
- ACI (Aku Cinta Indonesia)
- Anak Ajaib
- Indra ke enam (Joshua)

tengkyu,.... ditunggu kabarnya

Yonke mengatakan...

Skrng sdh ada yg jual bberp episode sinetron dan acara tvri 80an. Googling aja "lapanpuluhan". Saya sdh beli bbrp spt srimulat, losmen, kamera ria, dsb.
Buat rekan seangkatan, batasi anak2 kita nonton sinetron jaman skrng, tdk ada yg mendidik! Malah merusak. Mohon perhatiannya.
Salam 80an..