Senin, 06 April 2009

Nico Thomas, Juara Dunia Tiga Bulan


23 Maret 1989, usai pertarungan yang berpeluh dan berdarah-darah di lantai ring hanya tertinggal sepi. Nico Thomas menangis di kamar ganti. Perasaan marah berkecamuk di dadanya. Serasa tak percaya bahwa hakim menyatakan bahwa pertarungannya dengan juara tinju dunia kelas terbang mini versi IBF antara Samuth Sithnareupol berakhir dengan seri. Sedangkan seri, artinya dia gagal dalam usahanya merebut gelar juara dunia dari tangan petinju Thailand tersebut. Hakim merampok sabuk juara, katanya pedih.

Maka berbekal dendam kesumat itu dia meminta pertandingan diulang. Dia berlatih keras di dalam tempo tiga bulan untuk bisa melakukan pertarungan ulang melawan Samuth Sithnaurepol. Bernaung di Sasana Tonsco, milik Tinton Soeprapto, Nico dilatih oleh kakak kandungnya, Charles Thomas.

Maka 17 Juni 1989 mereka kembali diadu di ring tinju Gelora Senayan Jakarta. Diawali tarian cakalele, tarian khas Maluku untuk membangkitkan semangat juang, Nico naik ring dengan berpakaian daerah ala Maluku. Ternyata, Nico memang lebih siap menghadapi pertarungan itu. Ia kini jauh lebih matang ketimbang penampilannya yang pertama.

Dan dalam sebuah pertandingan yang menegangkan, usai bel ronde ke-12 berdentang, tiga hakim menyatakan kemenangan telak untuk Nico Thomas. Tiga hakim yakni Luis Race (Hawaii) dan Alec Villacampo (Filipina) memberikan angka 115-111, dan Hideo Arai (Jepang) memberi nilai 119-108. Jadilah dia juara dunia kelas terbang mini (47,6 kg) versi IBF!

Dibesarkan dari keluarga petinju Nico Thomas sudah berlatih sejak kecil. Sang kakak Charles Thomas pernah menjadi juara nasional di ring amatir dalam lima kelas berbeda, yakni kelas layang, terbang, bantam, bulu, dan ringan. Dari Sang Kakak itulah dia terinspirasi untuk beradu tinju pada 1971-1982.

Nicholas Thomas lahir di Ambon, 10 Juni 1966 anak nomor 12 di antara 16 bersaudara keluarga pasangan Julianus Thomas dan Helena Thomas, pada usia 14 tahun sudah berani bertanding di atas ring. Sebuah pertarungan eksebisi tiga ronde itu dilakukan di kampung halamannya yang langsung membuat pengda Pertina Maluku terpikat dengan penampilan Nico kecil. Maka pada tahun 1982, Nico dimasukkan program latihan di pusdiklat Ambon, 16 tahun usianya waktu itu.

Nico Thomas berhasil membuktikan bakat besarnya. Hanya dalam beberapa bulan berlatih di pusdiklat, dia berhasil meraih medali emas dan terpilih sebagai petinju favorit dalam kejuaraan daerah tinju junior pada 1982. Selanjutnya, pada 1983, saat ikut kejurnas tinju junior, medali emas kembali berhasil diraihnya.

Tahun 1985 Nico Thomas bergabung dengan kontingen Merah Putih di ajang SEA Games Thailand. Dari ring tinju Negeri Gajah Putih, dia meraih medali perak sebagai runner-up setelah di final bertemu petinju tuan rumah Thailand. Prestasinya di tinju amatir yang mengkilap tersebut yang memutuskan untuk beralih ke ring profesional tahun 1986.

Nico Thomas menjadi menjadi juara dunia kedua yang dimiliki Indonesia di dekade 80, setelah Ellias Pical merebut gelar juara dunia IBF kelas bantam yunior dengan menang KO ronde ke-8 atas Jo-do Chun (Korsel) pada 3 Mei 1985. Namun sayang, gelarnya tak bertahan lama karena Nico Thomas kemudian kalah KO di ronde 5 dari penantangnya Eric Chavez (Philipina), di Jakarta, 21 September 1989. Nico Thomas akhirnya harus melepas gelar juara dunia kelas terbang mini IBF yang sempat disandangnya selama 96 hari atau 13 minggu dan 5 hari.

41 komentar:

one stop blogging mengatakan...

pertamax...
numpang promosi...

suryaden mengatakan...

lebih mantap chris john sekarang ... rosa...rosa...rosa

Henny Y.Caprestya mengatakan...

salam kenal yah..
hny ga terlalu ngerti sama kickboxing Indonesia,,hehehe
peace!

kejujurancinta mengatakan...

saya cuma tahu Ellias Pical
tapi sayang namanya hilang begitu saja

kunjungan balik
makasih joe da main ke blog saya

Sang Cerpenis bercerita mengatakan...

wah, gak pernah denger tuh namanya. kalo Ellyas Pical malah pernah denger.

Penyamun Blogger mengatakan...

Jagoan lama tuh..

one stop blogging mengatakan...

Pernah dengar nama Thomas Americo juga, dulu dia mencoba merebur gelar tapi gagal, sepertinya banyak yang mencoba merebut gelar tapi gagal

joe mengatakan...

Thomas Americo petinju asal Timor Timur gagal mengalahkan Soul Mamby dari Amerika pada perebutan Juara Dunia Kelas Welter Junior. Selain Thomas Americo ada juga Joko Arter kalah KO ronde ke-2 dari Min Keun Oh ( Korsel ) di kejuaraan kelas bulu (57,1 kg) IBF di Seoul, 4 Maret 1984, kemudian Yani Hagler, kalah TKO ronde ke-3 dari Dodie Boy Panalosa (Filipina) dalam kejuaraan kelas terbang junior (48,9 kg) IBF di Jakarta pada 12 Oktober 1985, Azadin Anhar kalah KO ronde ke-3 dari Jum-hwan Choi (Korsel) dalam kejuaraan terbang junior IBF di Jakarta, 9 Agustus 1987, Polly Pasireron, kalah KO ronde ke-5 dari Chong-pal Park (Korsel) dalam kejuaraan kelas menengah super (76,2 kg) WBA di Chonju, Korsel, 1 Maret 1988, Udin Baharuddin kalah KO ronde ke-7 dari Myung-woo Yuh (Korsel) di kejuaraan terbang junior WBA di Seoul, 6 November 1988, John Arief kalah angka 12 ronde dari Napa Kiatwanchai (Thailand) dalam upaya merebut gelar kelas jerami (47,6 kg) WBC di Korat, Thailand, 11 Februari 1989.

ajeng mengatakan...

Wah mas,kalo soal tinju saya nyerah.Karena saya paling gak suka tinju.Olah raga kok menghajar-hajar orang gitu...

mamas86 mengatakan...

Wah ru tahu nih...

suwung mengatakan...

namanya ngak sebagus dan secermelang elly bos
sekarang dimana dan ngapainya?

easy mengatakan...

ga pernah ngerti dunia tinju. tapi selalu mendukung semua atlet2 indonesia :)

Danta mengatakan...

Salut deh buat mas Nico Thomas..

Saluuut..

joe mengatakan...

@ suwung:
sekarang Nico Thomas jadi staf IANI (Ikatan mantan atlet nasional Indonesia) yang berkantor di Kantor Menteri Pemuda dan Olahraga di Jakarta. Tahun 2007 dia mendapat bantuan rumah dari Menpora setelah sebelumnya dia hanya menempati rumah kontrakan

Dwi Wahyudi, SE mengatakan...

Meninggalkan jejak disini...

antokoe mengatakan...

20 tahun yang lalu, tentu aku masih imut-imut dan aku masih inget kejayaan petinju ini.

Anthony Harman mengatakan...

Sayangnya, juara2 tinju yang pernah mengahrumkan nama bangsa ini saat ini gak tentu nasib kesejahteraannya

joe mengatakan...

sebuah PR besar bagi pemerintah untuk memperhatikan nasib para pahlawan olah raga, yang pernah mengharumkan nama Indonesia ...

SanG BaYAnG mengatakan...

Salam..olah raga..
Menyikapi posting ini,saya sependapat yang di atas saya..,dan sangat menyayangkan..!!!
Kenapa kok jarang ada penghargaan dari kamarintah terhadap pahlawan olah raga,seperti para tinju itu misalnya..???
Apa mungkin karena mereka suka adu jotos,sehingga di anggap menyaingi adu jotos yang sering terjadi dalam sidang parlemen,ehehehehe..
@=> Daripada diam di sini ntar di tinju mendingan lari ah..,kaborrr..wakxkxkxkxkx..

joe mengatakan...

kaburnya gak usah cepet-cepet ntar jatuh...

zee mengatakan...

udah lama saya ga ngikutin perkembangan tinju, pdhl dulu suka banged....
udah gnti selera kekeke...

ragil mengatakan...

dapat dari mana tuh gambar ;)) secara itu kan gambar jadul

siWi mengatakan...

Itu tinju ya?
*dipentung*
:D

joe mengatakan...

@ ragil:
aku dapat dari Om Google kok...

munawar am mengatakan...

setidaknya ada regenerasi hingga Cris John sekarang ini; pun namanya juga sudah mendunia; emang tidak banyak kali yaahhh yang ingin jadi petinju internasional

joe mengatakan...

Chris John bahkan menyandang Super Champion akibat prestasinya bisa mempertahankan gelar juara lebih dari 10 kali...

Bigmike mengatakan...

Bung joe, thanx sudah ke blog saya. Elly Pical, Nico Thomas dan siapa saja yang pernah ada dan menjadi "sejarah" adalah cermin tempat kita menegok ke belakang supaya selamat perjalanan kita ke depan. Itulah fungsi sejarah. Tabe

S.A mengatakan...

blogmark! layak banget blog ini sebagai acuan menggali lagi sejarah2!

adakah niatan untuk menggali dekade2 yang lain sob?

sukarnosuryatmojo mengatakan...

sebagai generasi 80an, postingan ini telah membuka kembali luka lama, karena saya kalah taruhan gara2 angka seri-nya nico thomas ha..ha...

anggi mengatakan...

Banyak olahragawan kita yg bersinal dalam nasional maupun internasional sayangnya kesejahteraan mereka kurang diperhatikan setelah pensiun.

kacrut mengatakan...

sukanya gulat.. di kasur.. wakkakakakkakakka

- s L i K e R s - mengatakan...

Keren bos....

MATA HATI mengatakan...

Wuuuiiih biar 3 bulan di catat sejarah ya ..keren..

Anton mengatakan...

Tapi yang lebih tragis adalah kehidupan Nico setelah tidak jadi seorang olahragawan...untung tidak terperok dalam dunia hitam seperti Elias pical...semoga pemerintah memikirkan hal ini

indon mengatakan...

aku jg pernah dengar soal Nico Thomas, walau gak spt Pical. Senang sekali mengetahui kalo si Tomas skrg gak terlunta-lunta...

Nyante Aza Lae mengatakan...

lengkap banget datanya mas
emang siy, dq inget2 dikit tuh ttg nico thomas

ndop mengatakan...

infonya kumplit, seperti sedang membaca buku sejarah... hehehe..

sayang aku ndak suka tinju...

takut terinspirasi... hehehe...

anak nelayan mengatakan...

mereka petinju keren
saat itu usiaku baru 5 tahun huehehehe

nancy mengatakan...

tapi banyak ya petinju kita yang wafat di ring ya...

joe mengatakan...

kurangnya pengalaman di amatir membuat banyak petinju kita yang berguguran di ajang tinju profesional, di antaranya adalah:
1. Jimi Koko (1948) saat melawan Meyer 2. Rocky Wang (1950) lawan VIC Suatman 3. Robby Pav (1959) lawan Muhammad Yali 4. Sarono (1961) lawan Tan Hwa Soei 5. Aceng Jim (1978) lawan Kai Siong 6. Nasir Kitu (1979) 7. Domo Hutabarat (1984) lawan Dadan Krinsa 8. Agus Souisa (1987) lawan Michael Arthur 9. Wahab Bahari (1987) lawan Hudi 10. Suryanto (1988) lawan John Bonnex 11. Bongguk Kendy (1990) lawan Bisenti Santoso 12. Yance Samangun (1993) lawan Mahmud 13. Akbar Maulana (1995) lawan Bugiarso 14. Bayu Young Iray (2000) lawan Herianto Kalam 15. Dipo Saloko (2000) lawan Roy Saragih 16. John Namtilu (2000) lawan Hasan Purba 17. M Alfarizi (2000) setelah dipukul KO oleh petinju Thailand, Khongtawat Ora 18. Donny Maramis (2001) lawan Stenly Kalalo 19. Johans Bones (2003) lawan Slamet Nizar 20. Antonius Moses (2004) tanggal 13 Januari 2004 lawan Kaichon sor Vorapin 21. Jack Ryan (2004) tewas tanggal 15-2-2004 lawan Syamsul Hidayat 22. Anis Dwi Mulya asal Sasana Amphibi Marinir Surabaya 20 Maret 2007

Aryo Sulkhan - Sindoro Satriamas BC Semarang mengatakan...

Mantap banget nih informasi Bung Joe tentang tinju. Sip sip sip.. :)